Tampilkan postingan dengan label CERMIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERMIS. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Maret 2016

Sepenggal MASA LAMPAU di tepi Danau Batur 1

Desa Trunyan tetap menyimpan masa lalunya. Desa kecil di tepi Danau Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli ini terbilang desa kuno yang disebut desa Bali Aga dan Bali Mula, dengan keunikan yang tetap terpelihara hingga kini....


Desa Truyan memang agak memencil. Jalan darat  dari Panelokan, Kintamani, hanya sampai di desa Kedisan. Kalau ingin melanjutkan ke Trunyan, perjalanan harus diteruskan dengan menyeberangi Danau Batur, sekitar 45 menit dengan perahu bermotor atau 2 jam dengan perahu lesung yang digerakan dengan dayung. Ada memang jalan darat lainnya, yakni lewat jalan setapak melalui desa Buahan dan Abang. Di sebelah timur bibir Danau batur itulah letak desa Trunyan.

Danau Batur sepanjang 9 kilometer dan lebar 5 kilometer itu menjadi teramat penting artinya bagi warga Trunyan dab desa-desa sekitarnya. Selain untuk sarana transpirtasi, juga untuk sarana air bersih dan pertanian. Khususnya bagi masyarakat Bali Selatan dan TImur, termasuk Trunyan. Dengan panorama danau yang indah dan hamparan tanah pertanian yang menghijau, juga suhu yang rata-rata 12 sampai 17 derajat celcius, Trunyan seperti sepenggal kedamaian di tepi Batur.


UNIK DAN PENUH MISTERI

Sejak lama Trunyan menjadi daya tarik tersendiri. Trunyan yang dikenal sebagai dessa Bali Aga-sebutan untuk orang Bali pegununggan-dan Bali Mula atau Bali asli itu menjadi terkenal karena memiliki banyak keunikan. Cerita turun temurun menyebutkan penduduk desa Trunyan adalah keturunan penduduk asli Pulau Bali, yang sudah menjadi penghuni pulau Bali, jauh sebelum kedatangan Majapahit pada abad ke-14.

Salah satu keunikan masyarakat Trunyan adalah tradisi pemakaman yang tetap mereka lakukan hingga saat ini. Bila ada warga yang meninggal, jenazahnya tidak dimakamkan sebagaimana lazimnya, tetapi ditaruh di atas batu besar yang memiliki 7 cekungan. Cekungan itu terbentuk secara alamiah saat Gunung Agung meletus. Jenazah orang yang meninggal kemudian diletakan di atas cekungan batu. Hanya dipagari bambu anyam secukupmya. Uniknya, meskipun sudah berhari-hari dan tidak dibalsem, jenazah sama sekali tidak berbau.

Rahasia mayat-mayat yang tidak menyebarkan bau busuk itu ternyata ada pada pohon Taru Menyan yang dibiarkan tumbuh lestari dan rimbun di sekitar tempat pemakaman tersebut. Bau harum yang dikeluarkan oleh pohon Taru Menyan ini mengalahkan bau busuk yang dikeluarkan oleh jenazah yang membusuk, sampai akhirnya tinggal tulang belulang. Konon  nama Desa Trunyan diambil dari nama pohon Taru Menyan ini.

Meskipun beragama Hindu, mereka tidak pernah melakukan upacara kremasi seperti halnya yang dilakukan orang Bali. Upacara ngaben, yakni upacara pembakaran jenazah, tidak berlaku bagi penduduk Truyan. Di daerah ini, jenazah tidak pernah dibakar (kremasi), melaikan hanya diletakan di tanah pengkuburan. Lokasi kuburan juga biasanya tidak terletak di dalam wilayah desa Trunyan, tetapi 500 meter di luar desa, dan hanya bisa dicapai dengan perahu.

Menurut tradisi, kuburan di daerah Trunyan dibagi dalam tiga klasifikasi, yakni berdasarkan umur orang meninggal, keutuhan kondisi jenazah dan cara penguburan. Kuburan utama adalah kuburan yang dianggap paling suci dan paling baik. Jenazah yang dikuburkan pada kuburan suci ini hanyalah jenazah yang jasadnya utuh, tidak cacat, serta jenazah yang proses meninggalnya dianggap wajar, bukan karena bunuh diri atau kecelakaan.

Kuburan yang kedua disebut Kuburan Muda, khusu diperuntukan bagi dan orang dewasa yang belum menikah. Namun  tetap dengan syarat bahwa jenazah tersebut harus utuh dan tidak cacat. Sedangkan kuburan yang ketiga disebut Sentra Bantas, khusu untuk tempat jenazah yang cacat dan yang meninggal karena salah pati ataupun ulah pati (meninggal secara tidak wajar).

Dari ketiga jenis kuburan tersebut, yang paling unik dan menarik adalah kuburan utama atau kuburan suci (Setra Wayah). Seperti apa keunikannya? Kita sambung pada postingan berikutnya. ........BERSAMBUNG

Sabtu, 13 Desember 2014

PERNIKAHAN DENGAN LELEMBUT

Pernikahan Dengan Jin
 
Serangkaian peristiwa aneh menghiasi pernikahan antara Ki Buyut Beji dengan putri dari kerajaan jin. Tutur mengatakan, anak keturunan dari pernikahan makhluk berbeda alam ini melahirkan manusia-manusia yang pilih tanding….
Dikisahkan, ketika itu Kerajaan Banten belum menganut Islam. Kyai Terumbu memiliki lima orang anak. Anak pertama bernama Abdul Fattah, atau terkenal dengan sebutan Ki Beji atau Ki Buyut Beji. Julukan ini karena Abdul Fattah terkenal sebagai sosok berhati besi .
Nah, kisah Ki Buyut Beji inilah yang kemudian terjalin sedemikdan rupa, dengan berbagai keanehan di dalamnya sehingga menyerupai sebuah legenda. Seperti apa? Ikuti terus sajian ini…
Dikisahkan, menjelang dewasa, Ki Buyut Beji memiliki seorang istri. Namun istrinya tersebut tidak berumur panjang. Karena itulah dia ingin mencari istri kembali. Tapi para wanita tidak ada yang mau menjadi istrinya karena takut akan berumur pendek. Akhimya, Ki Buyut Beji menghadap ayahandanya Kyai Terumbu.
Oleh Kyai Terumbu, dia disarankan untuk mencari istri dari golongan jin. Syarat agar mendapat istri dari golongan jin adalah dengan membuat sumur pemandian di satu kampung yang terdapat hutan. Dan hutan tersebut harus belum pernah di jamah manusia. Apabila sumur itu digunakan mandi oleh wanita dari golongan jin, maka, Ki Buyut Beji harus berusaha mengambil salah satu pakaiannya.
Setelah menerima wejangan dari ayahandanya seperti itu, Ki Buyut Beji pun mencari kampung dimaksud. Maka didapatlah kampung yang bernama Kajemen. Di sanalah dia menggali sumur. Namun, setelah beberapa lama menunggu, tidak satupun wanita dan golongan jin yang mandi.
Setelah gagal, Ki Buyut Beji membuat sumur yang sama di Kampung Pontang (dekat Tirtayasa) Setelah beberapa hari menunggu, ternyata juga tidak ada hasilnya.
Karena dua kali gagal, akhimya dia kembali menghadap ayahandanya. Oleh Kyai Terumbu, Ki Buyut Beji diperintahkan untuk membuat sumur di kampung yang di tempati Kyai Terumbu, yaitu Kampung Padadaran (sekarang bemama kampung Terumbu dan sumumya dikenal dengan nama sumur Pulauan-Pen)
Setelah selang tiga hari menunggu, maka, terlihat tanda-tanda air sumur telah keruh. Ini berarti ada jin wanita yang telah mandi. Keesokan malamnya, Ki Buyut Beji mengintip sumur buatannya dan terlihat olehnya tiga jin wanita sedang mandi Dua jin wanita mengetahui bahwa Ki Buyut Beji sedang mengintip mereka, maka, keduanya segera mengambil pakaiannya dan langsung menghilang. Tinggal satu jin wanita yang masih di sumur. Ki Buyut Beji segera mengambil pakaiannya, dan menyembunyikannya di dalam lumbung padi.
Jin wanita itu mencari pakaiannya dan bertemu dengan Ki Buyut Beji. Oleh K Buyut Beji jin wanita itu diberikan pakaian manusia Syahdan, dia lalu diajak oleh Ki Buyut Beji ke tempat Kyai Terumbu.
Oleh Kyai Terumbu, Ki Buyut beji dinikahkan dengan jin wanita itu. Ki Terumbu memberi tahu kepada Ki Buyut Beji bahwa mereka akan hidup normal selayaknya manusia selama pakaian itu tidak ditemukan jin wanita yang telah menjadi isteri syahnya.
Suatu saat Ki Buyut Beji diundang rapat oleh para Wali Songo di Demak. Dalam perjalanan ke Demak ada beberapa kejadian penting yaitu
1. Pada hari pertama perjalanan, Ki Buyut Beji menemukan burung dara mati di depannya, dan dia pun menangisi burung tersebut sambil berkata, “Andai saja Allah menjadikan burung ini hidup kembali, maka dia akan dapat berguna bagi anak dan keluarganya”. Dan seketika itulah Allah SWT mengabulkan permintaan Ki Buyut Beji..Burung itu langsung hidup dan dengan izin Allah dapat berbicara dengan bahasa manusia. Burung itu berkata kepada Ki Buyut Beji, “Jika Ki Buyut Beji butuh pertolongan; maka, saya akan membantu. Hentakkanlah kaki Ki Buyut ke bumi tiga kali sebelum memanggilku, maka, aku akan datang. “Baiklah, bila aku membutuhkan pertolonganmu aku akan panggil dirimu! ” Balas Ki Buyut Beji. Kemudian burung dara itu pergi meninggalkan Ki Buyut Beji
2. Pada hari kedua perjalanan, Ki Buyut Beji menemukan belut putih mati di depannya. Ki Buyut Beji pun kembali menangisi belut tersebut sambil berkata, “Andai saja Ya Allah, belut ini hidup kembali, maka dapat berguna bagi anak dan keluarganya.” Dan seketika itu Pula Allah mengabulkan permintaan Ki Buyut Beji: Belut itu langsung hidup, dan dengan izin Allah dapat berbicara dengan Bahasa manusia. Belut itu berkata kepada Ki Buyut Beji, “Jika Ki Buyut Beji butuh pertolonganku, maka, aku akan membantumu. Hentakkan kaki Ki Buyut ke bumi tiga kali sebelum memanggilku, maka, aku akan datang kepadamu. “Baiklah bila aim membutuhkan pertolanganrnu aku akan panggil kamu!” Balas Ki Buyut Beji. Kemudian belut itu pergi meninggalkan dirinya, hilang raib begitu saja.
3. Pada hari ketiga perjalanan, Ki Buyut Beji menemukan lalat besar mati di depannya. Sama seperti terhadap kedua makhluk terdahulu, Ki Buyut pun kembali menangisi lalat besar tersebut sambil berkata, “Andai saja Ya Allah lalat ini hidup kembali maka dia akan berguna bagi anak dan keluarganya.” Dan seketika Allah SWT mengabulkan permintaan Ki Buyut Beji. Lalat itu pun langsung hidup kembali, dan dengan seizin Allah dapat berbicara dengan bahasa manusia. Lalat itu berkata kepada Ki Buyut beji, “Jika Ki Buyut Beji butuh pertolonganku, maka, aku pun akan membantumu. Hentakkan kaki Ki Buyut ke bumi tiga kali sebelum memanggilku, maka, aku akan datang kepadamu.”. “Baiklah, bila aku membutuhkan pertolonganmu, maka, aku akan panggil dirimu! ” Balas Ki Buyut Beji, Kemudian lalat itu pun pergi meninggalkan Ki Buyut Beji, hilang raib dari hadapannya
Pada malam terakhir perjalanan pulang dari Demak menuju Kampung Terumbu, Banten, Ki Buyut Beji menemukan burung garuda besar mati di depannya. Sama seperti yang terdahulu, Ki Buyut Beji pun kembali manangisi garuda besar tersebut sambil berkata, “Andai saja Ya Allah burung ini hidup kembali, maka dia akan dapat berguna bagi anak dan keluarganya.”Dan seketika itu pula Allah SWT mengabulkan permintaan Ki Buyut Beji. Burung garuda itu langsung hidup dan dengan seizin Allah dia dapat berbicara dengan bahasa manusia.Burung garuda itu berkata kepada Ki Buyut Beji, “Jika Ki Buyut Beji butuh pertolonganku, maka aku akan membantumu: Hentakkan kaki Ki Buyut ke bumi tiga kali sebelum memanggilku, maka, aku akan datang ke hadapanmu!”
“Baiklah, bila aku membutuhkan pertolonganmu aku akan panggil dirimur.” Balas Ki Buyut Beji. Kemudian burung garuda itu pergi meninggalkan Ki Buyut; Beji, terbang mengangkasa.
Setelah beberapa hari perjalanan, akhimya sampailah dia di rumah. Ketika itulah Ki Buyut Beji terkejut karena istrinya yang berasal dari bangsa jin sudah tidak ada lagi. Walau sudah mencari kemana ­mana, tapi tidak bertemu juga.
Dalam keadaan bingung, Ki Buyut Beji teringat pada wasiat ayahandanya. Sabelum bepergian, Ki Terumbu telah mengingatkan Ki Buyut Beji untuk menyembunyikan kunci lumbung padi tempat pakaian asli jin wanita itu disembunyikan olehnya. Ki Buyut Beji sudah melaksanakan wasiat, Sayangnya kunci lumbung tersebut dia dititipkan ke penjaga rumahnya yang bernarna Ki Besus.
Ingat akan hal ini, dia pun segera mernanggil Ki Besus untuk diinterogasi perihal hilangnya sang istri:
“Ki, kunci lumbung sudah kutitipkan kepadamu dan tidak ada satu orang pun yang boleh meminjam kunci tersebut termasuk istriku. Tapi mengapa istriku tiba-tiba menghilang? Apa dia telah menemukan bajunya? Lalu dari mana dia mendapatkan kuncinya kalau tidak dari Ki Besus sendiri?” Tanyanya kepada abdi setianya itu.
“Maafkan hamba, Raden! Hamba memang salah Hamba sudah mematuhi perintah untuk tidak memberikan kunci, lumbung kepada siapapun termasuk istri Raden. Tapi hamba tertidur karena mengantuk sekali. Rupanya, pada saat itulah istri Raden mengambil kunci lumbung itu,” jawab Ki Besus.
“Apakah kau yakin dia yang mengambilnya?” Desak Ki Buyut Beji. “Hamba yakin, Raden!”Tandas Ki Besus: “Karena waktu itu tidak ada orang lain selain istri Raden sendiri. Saat saya terbangun dari tidur, saya langsung ingat kunci itu. Lalu saya lihat kunci itu telah tiada. Maka saya lari ke tempat lumbung padi, dan ternyata pintu lumbung telah terbuka. Saya pun mencari kemana-mana istri Raden, tapi tidak menemukannya. Maafkan dan ampunilah hamba,.Raden,” jelas Ki Besus penuh penyesalan.
Ki Buyut Beji memaafkan kekhilafan Ki Besus: “Sudahlah kalau demikian. Aku akan mencarinya sendiri,” katanya dengan hati yang masygul.
Ketika dalam keadaan bingung, Ki Buyut Beji teringat akan burung garuda yang pemah dihidupkannya kembali dari kematian berkat izin Allah SWT. Bukankah burung itu pemah berkata pada dirinya, bahwa bila dia membutuhkan bantuannya maka tinggal sebut namanya sambil menghentakkan kaki ke tanah tiga kali?
Maka, Ki Buyut Beji mamanggil burung garuda tersebut dengan cara tadi. Memang, tak lama kemudian burung itu datang.
“Gerangan urusan apakah yang membuat Ki Buyut memanggil hamba? Tanya sang garuda.
“Wahai burung garuda, bawalah aku ke istana jin. Aku yakin kau dapat membawaku kesana!” Pinta Ki Buyut Beji.
Burung garuda itupun mengangguk, tanda menyanggupi permintaan Ki Buyut Beji.
Maka, Ki Buyut Beji menaiki punggung burung itu. Si burung itupun membawa Ki Buyut Beji ke alam jin. Sesampai di gerbang istana jin, Ki Buyut Beji di tahan oleh penjaga istana tersebut. Menurut penjaga istana jin, golongan manusia tidak diperkenankan masuk ke dalam istana mereka. Tapi Ki Buyut Beji tetap bersikeras untuk masuk ke dalam istana jin dengan alasan ingin mencari istrinya yang berasal dan golongan jin.
Setelah terjadi debat, penjaga istana jin itupun meminta Ki Buyut Beji menunggu di depan gerbang istana; karena dia akan menghadap kepada penguasa istana jin tersebut lebih dahulu.
Tak lama kemudian penjaga istana jn itu kembali lagi ke tempat Ki Buyut Beji menunggu. Menurut penjaga istana bahwa raja penguasa istana jin itu memberi beberapa syarat kepada Ki Buyut Beji agar dapat membawa istrinya kembali ke dunia.
“Katakanlah apa saja.persyaratan yang diminta oleh Rajamu itu!” Pinta Ki Buyut Beji.
Sang penjaga istana jin akhimya memberitahukan syarat-syarat dimaksud. Persyaratan pertama adalah, Ki Buyut harus mengambil air dari alam manusia dan membawanya ke istana jin dengan keranjang yang bagian bawahnya berlubang. Kemudian keranjang itu diberikan oleh penjaga istana jin ke Ki Buyut Beji.
Sejenak Ki Buyut Beji berpikir, bagaimana caranya membawa air dengan keranjang yang berlubang di bawahnya? Lalu, dia teringat akan belut putih yang telah ditolongnya. Maka, Ki Buyut Beji memanggil belut putih itu untuk datang ke tempatnya.
Setelah memanggil si belut, makhluk itu pun datang dan melilit bagian bawah keranjang yang berlubang tersebut, sehingga Ki Buyut Beji dapat membawa air dari alam manusia ke alam jin
Setelah menjalani persyaratan pertama, penjaga tersebut memberikan persyaratan kedua, yaitu Ki Buyut Beji harus mencari sendiri lokasi tempat.dimana istrinya berada. Ki Buyut Beji kebingungan untuk mencari lokasi istrinya berada, berhubung istana jin itu terdiri dari ratusan lantai dan tingkatan. Dalam kebingungan inilah Ki Buyut Beji pun. teringat dengan burung dara yang pernah di tolongnya. Lalu, dia pun memanggil burung dara dengan menghentakkan kakinya ke tanah.
Tak lama kemudian burung dara itu pun datang: Ki Buyut Beji memberikan perintah untuk mencari lokasi keberadaan istrinya.. Burung dara pun segera terbang melewati lantai demi lantai kerajaan di alam jin. Sampai akhirya si burung dara menemukan lokasi tempat istri Ki Buyut Beji berada. Kemudian, burung dara itupun melapor kepada Ki Buyut Beji. Ki Buyut Beji pun menunggang burung garuda terbang menuju lantai tempat istrinya berada. Sesampai di sana betapa terkejutnya Ki Buyut Beji; karena di tempat tersebut terdapat ribuan jin wanita yang berwajah serupa.
Karena kebingungan menentukan mana istrinya, Ki Buyut Beji pun memanggil lalat besar yang pernah ditolongnya, dan memerintahkan untuk mencari istrinya di antara ribuan jin wanita yang serupa itu.
Si lalat pun menjalankan tugasnya dengan baik, dan akhimya dia hinggap di pipi salah satu wanita jin, yaitu istri dari Ki Buyut Beji.
Setelah menemukan istrinya, Ki Buyut Beji diperbolehkan membawanya pulang ke alam manusia. Di alam manusia mereka hidup normal sebagai sepasang suami istri manusia. Mereka dikaruaniai tiga orang anak yang bemama Tanjung Anom, Kudup Melati dan Dewi Rasa
Syahdan, keturunan Ki Buyut Beji rata-rata memiliki kesaktian dan ilmu, sifatnya pun terpelihara hingga sekarang. Mereka berada terutama di Kampung Terumbu dan sekitarnya, seperti: di Kasemen, Kabupaten Serang Banten. Beberapa keturunan Ki Buyut Beji yang memiliki kesaktian luar biasa, adalah:
1. Nyi Jong; yang memiliki kerudung sakti hasil ritualnya. Khasiat kerudung sakti itu bila diikat kepohon, maka, di sekitamya akan terlihat lautan darah berwama merah. Suatu saat kompeni Belanda hendak menyerbu_ Kampung Terumbu. Maka oleh Nyi Jong kerudung tersebut diikatkan di pohon, akibatnya, seketika itu Kampung Terumbu pun terlihat berubah bagai lautan darah. Belanda pun tidak berani masuk ke kampung itu dan segera meninggalkannya.
2. Nyi Audah, memiliki usia yang panjang hingga berumur 300 tahun.
3.H. Buang memiliki kesaktian mengalahkan Siluman Harimau yang sakti. Dikisahkan, waktu itu di benteng Jakarta (lapangan Banteng sekarang­-Pen) dihuni oleh Siluman Harimau yang sakti dan ganas. Bila Kompeni Belanda melewati daerah tersebut pasti diterkam mati. Akhimya pihak Belanda mengadakan sayembara: Barang siapa yang dapat membunuh Siluman Harimau itu maka akan dihadiahi tanah sepuluh hektar. Konon, banyak pendekar yang mengikuti sayembara itu namun di antara mereka banyak. yang tewas dan tidak mampu mengalahkan Siluman Harimau tersebut. Maka, majulah H. Buang yang berperawakan kecil dan bila dilihat seperti orang yang lemah. Pada awalnya Belanda tidak percaya bahwa H. Buang akan mampu mengikuti sayembara itu, namun H. Buang tetap ingin mengikuti sayembara tersebut. Akhimya Belanda pun memperbolehkan H. Buang untuk bertarung dengan Siluman Harimau itu.
Maka, terjadilah perang tanding adu kesaktian di antara keduanya yang akhimya H. Buang dapat membunuh Siluman Harimau itu.. Atas kemenangannya Belanda menepati janji dengan menghadiahi tanah seluas sepuluh hektar kepada H. Buang
Demikianlah kisah Ki Buyut Beji, seorang waliyulloh dari Banten dan sekarang makamnya terdapat di Serang, Banten. Kisahnya memang bagaikan serangkaian legenda. Namun, benarkah semua itu hanyalah rangkaian legenda? Hanya Allah SWT yang tahu segalanya.




Kerajaan Jin Pulomas Indramayu


(boleh percaya boleh tidak )
Seandainya sebagian dinding istana Pulomas itu runtuh lalu masuk ke muara Cimanuk, niscaya bakal muncul areal pendulangan emas terbesar di seluruh jagat. Dengan runtuhnya dinding istana itu maka seisi muara bakal mengandung emas melebihi kandungan lumpur emas di sungai Musi, Kalimantan. Bahkan konon akan lebih besar dari hasil penambangan di Irianjaya.

Sayangnya, dinding istana yang terbuat dari emas itu sangat kokoh, dan istana itupun adanya hanya di alam gaib Pulomas. Di alam manusia, Pulomas hanya berupa rawa-rawa yang bersisian dengan muara Laut Jawa, persisnya berada di Kampung Pulomas, Desa Centigi Sawah, Kecamatan Centigi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Di atas rawa-rawa seluas puluhan hektare itu, menurut terawangan gaib,LANJUTKAN BACA

Mitos Asal-Usul Pantai “Watu Ulo” Jember-Jawa Timur



Masyarakat Jember menceritakan bahwa nama pantai Watu Ulo bermula dari kisah berikut. Pada zaman dahulu Ajisaka (baca: Ajisoko) datang ke tanh Jawa. Di Jawa, negeri Medang Kamula, ia mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan kesaktian kepada masyarakat. Saat mengajari murid-muridnya, ilmunya didengar ayam yang sedang mencari makan di bawah pondok perguruannya. Seharusnya, siapapun tidak boleh mendengar ajaran Ajisaka, selain murid yag sudah diijinkan. Karena mendengar matra-mantra yang diajarkan kepada muridya, seekor ayam itu mendadak bertelur yang amat besar, tidak seperti biasanya.
Saat telur itu dierami dan menetas, ternyata yang keluar dari cangkang telur bukan anak ayam, tetapi anak naga raksasa, yang mampu berbicara seperti manusia. Anak naga itu LANJUTKAN BACA

KABUPATEN WONOGIRI



Pada zaman Kerajaan Demak ada seorang pertapa sakti bernama Ki Kesdik Wacana. Dia tinggal menyendiri di salah satu gua yang termasuk dalam jajaran Pegunungan Seribu. Pegunungan ini dikelilingi hutan yang penuh dengan pepohonan lebat dan alam yang indah. Tidak heran jika penguasa Demak pada waktu itu menjadikan sebagai hutan wisata raja dan tempat perburuan binatang.
Pada waktu-waktu tertentu, datanglah rombongan raja dengan pengiring dan senopatinya. Mereka berburu binatang, terutama Rusa. Sebagian hasil dari perburuan itu ada yang dihabiskan di tempat dan sebagian lagi biasanya dibawa kembali ke istana. Bekas tempat pesta pora itu pada akhirnya menjadi sebuah desa yang sekarang dinamakan Desa Senang, yang berarti tempat untuk bersenang-senang. Sampai sekarang desa itu masih ada.
Pada suatu ketika LOANJUTKAN BACA

Alas Roban Kabupaten Batang

Alas Roban, hutan kecil di sebuah Kecamatan Gringsing, kecamatan yang terletak paling timur di Kabupaten Batang - Jawa Tengah. Jalanan yang begitu menanjak dan berkelok di sebuah bukit dengan rindangnya pepohonan jati berukuran besar. Jalur yang dikenal angker karena banyak kejadian yang tak lazim dan banyaknya kecelakaan. Di jalur lama (tengah) terdapat tugu keselamatan. Tak jauh dari itu terdapat makam petilasan Syekh Jangkung yang dulu pernah berkuasa di daerah itu, namun nisan untuk memperingatinya tumbang di dekat salah satu pohon jati yang cukup besar.
Roban berasal dari kata ‘rob’ yang berarti air naik, kata ini sangat dikenal oleh masyarakat pesisiran. Kampung Roban sendiri ada di Kecamatan Subah. Roban berada di daerah pantai Laut Jawa. Suasana tempat ini hingga sekarang masih saja diselimuti hawa mistikLANJUTKAN BACA

Minggu, 07 Desember 2014

JUAL BELI GENDERUWO DI DESA BESOWO


Di bawah pohon beringin besar di tengah pekuburan tua yang terletak di sebelah timur Desa Besowo dipercaya menjadi pintu keluar masuk genderuwo yang diperdagangkan. Sebelum mengambil genderuwo tersebut, mereka melakukan ritual di bawah pohon itu. (57v)









SORE itu areal persawahan di Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban cukup semarak. Di areal persawahan yang melingkupi desa berpenduduk 628 kepala keluarga tersebut memang tengah memanen hasil bumi berupa kacang. Pria, wanita, tua dan muda tumpah ruah turun ke sawah, memungut hasil panenan. Kehidupan pertanian di Besowo memang cukup maju. Sayangnya, kehidupan damai masyarakat tani di Desa Besowo itu tertutup mitos genderuwo yang telah melingkupinya selama bertahun-tahun.
Ritual pembelian genderuwo, menurut sebagian warga, seringkali dilakukan oleh dukun desa di tempat-tempat seperti kuburan, tanah yang dikeramatkan, bahkan di tengah hutan yang cukup jauh dari desa. Ritual untuk mengambil genderuwo yang paling dekat adalah di kuburan tua yang terletak di sebelah timur desa. Di tempat yang memiliki pohon beringin besar tersebut, konsumen biasanya diajak dukun setempat untuk melakukan pengambilan makhluk (konon) setengah manusia setengah demit itu, dengan cara mempersembahkan sesaji, membakar dupa, dan bersemadi semalam suntuk. Hanya, cara yang dilakukan oleh dukun-dukun genderuwo yang ada saat ini menurut penduduk desa sudah sangat menyimpang dibandingkan dengan dukun yang terdahulu.
Dukun terdahulu, katanya, tidak perlu melakukan ritual di tempat-tempat seperti itu. Mereka cukup memanggil ''Mbah Ireng'' (begitu penduduk desa menyebut genderuwo) dari rumah mereka, tanpa harus datang ke tempat-tempat yang wingit tersebut.
Selain di kuburan desa, ada dua tempat lainnya, yaitu tanah Karangan dan Hutan Kalang yang menjadi tujuan dukun Desa Besowo untuk ngunduh genderuwo. Karangan merupakan sebuah gundukan tanah yang lebih tinggi dari areal persawahan. Tempatnya berada di sebelah timur desa. Sementara itu, Hutan Kalang jauh dari desa dan terletak di tengah-tengah areal hutan miliki Perhutani. Hutan Kalang sangat dikeramatkan oleh penduduk. Warga desa juga percaya, hutan tersebut merupakan kerajaan dari genderuwo.
Menurut penduduk, di hutan yang juga biasa disebut hutan larangan itu mengandung mitos jalma mara jalma mati (siapa yang berani datang akan tewas). Banyak ceritaLANJUTKAN BACA

Kamis, 04 Desember 2014

Ular Jelmaan Jin Muslim


Kali ini saya akan menceritakan tentang ULAR JELMAAN JIN MUSLIM di Dusun Larangan, Desa Kembaran, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Nah bila kalian melihat ular, tentu saja kalian pasti akan takut karna itu sudah reflek manusia (Padahal yang harus kita takuti adalah sang penguasa alam). Lalu kalian akan langsung mengusir bahkan sampai membunuh ular tersebut.
Namun, jangan coba - coba untuk membunuh ular yang melintas baik di jalan ataupun dalam rumah, khususnya di wilayah Dusun Larangan, Desa kembaran, Kecamatan kembaran, Kabupaten banyumas, Jawa tenggah.

Jika hal itu sampai dilakukan, maka jangan sesali diri kita, kalau kita mendapatkan musibah dikemudian hari. Inilah misteri yang hingga kini masih terus dipercaya di desa tersebut.
Menurut cerita orang – orang desa setempat, jauh sebelum tahun 1925, asal - usul desa kembaran ini adalah dua buah dusun yang bersebelahan. Di sebelah Utara adalah LANJUTKAN BACA

Senin, 24 November 2014

Sebuah Tarian Mistis... Tari Bedaya..



Satu sumber menyebutkan bahwa tari ini diciptakan oleh Penembahan Senapati - Raja Mataram pertama- sewaktu bersemadi di Pantai Selatan. 
Ceritanya, dalam semadinya Penembahan Senapati bertemu dengan Kanjeng Ratu Kencanasari (Ratu Kidul) yang sedang menari. Selanjutnya, penguasa laut Selatan ini mengajarkannya pada penguasa Mataram ini.

Sumber lainnya menyebutkan bahwa tari Bedhaya Ketawang ini diciptakan oleh Sultan Agung Anyakrakusuma (cucu Panembahan Senapati).
Menurut Kitab Wedhapradangga yang dianggap pencipta tarian ini adalah Sultan Agung (1613-1645), raja terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari, penguasa laut Selatan. Ceritanya, ketika Sultan Agung sedang bersemadi, tiba-tiba mendengar alunan sebuah gending. Kemudian Sultan Agung berinisatif menciptakan gerakan-gerakan tari yang disesuaikan dengan alunan gending yang pernah didengar dalam alam semadinya itu. Akhirnya, gerakan-gerakan tari itu bisa dihasilkan dengan sempurna dan kemudian dinamakan LANJUTKAN BACA

Jumat, 21 November 2014

Misteri gunung Lawu



Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran.
Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh LANJUTKAN BACA

Sabtu, 15 November 2014

Ragam kisah nyata berbau mistis di Gunung Semeru



Setiap orang yang mendaki Gunung Semeru pasti menyisakan beragam cerita tentang eksotisnya gunung tertinggi di Jawa ini. Berbagai bukti foto-foto selama perjalanan hingga ke puncak dirasa belum memuaskan pendaki untuk pergi mengunjungi gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia ini.
Selain cerita keindahan alam Semeru, beberapa pendaki juga ternyata memiliki pengalaman lain yang tidak semua pendaki mengalaminya. Yakni, pengalaman tentang dunia lain di Semeru. Cerita ini dikisahkan langsung oleh pendaki maupun orang yang menemukan pendaki ketika LANJUTKAN BACA

SUMBING DAN SINDORO, GUNUNG KEMBAR YANG MENANTANG



Sindoro dan Sumbing merupakan dua Gunung yang letaknya berdekatan, serta memiliki bentuk dan tinggi yang hampir sama. Tinggi Gunung Sumbing sekitar 3.340 m dari permukaan laut (dpl), sedikit lebih tinggi daripada Sindoro (3.155 m dpl).
Jika dipetakan, Sumbing berada disebelah barat daya kota Temanggung dan sebelah Timur kota Wonosobo. Sedangkan Sindoro disebelah barat laut Temanggung danLANJUTKAN BACA


Jumat, 14 November 2014

Pusaka Keong Buntet Palimanan


Sebuah penemuan yang menggegerkan para supranatural di belahan bumi tanah Jawa. Betapa tidak para pemborong yang sedang menggarap perluasan areal pabrik semen Palimanan harus terhenti dari pekerjaannya. Semua karena adanya suatu keganjilan yang membuat mereka harus geleng kepala.
Kisah ini terjadi beberapa tahun lalu, berawal dari LANJUTKAN BACA