Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2016

Cerita Dunia: Dongeng Putri Duyung

Ini adalah sebuah dongeng yang sangat terkenal. Kisah di dongeng yang ditulis di sini tentu mengalami beberapa adaptasi. Hans Christian Andersen, seorang pengarang cerita dari Denmark mengarang dongeng ini dan menerbitkannya pada tahun 1937. Mungkin kamu pernah menonton film animasi dari Disney, dengan judul The Little Mermaid. Ya, Ariel adalah nama Putri Duyung dalam film tersebut. Sebenarnya H.C. Andersen tidak memberikan nama apapun pada tokoh Putri Duyungnya itu. Penasaran bagaimana ceritanya. Ayo dibaca sampai selesai ya.

***

Di kedalaman samudera yang luas, jauh dari jangkauan manusia, terdapat sebuah kerajaan laut. Di istana, Raja tinggal bersama 6 orang putri yang cantik. Mereka semua pandai menari dan menyanyi. Gerakan mereka indah dan lincah di dalam air. Mereka tidak mempunyai kaki seperti manusia, tetapi putri-putri cantik itu memiliki ekor seperti ikan lengkap dengan sirip-siripnya yang indah. Rambut mereka panjang tergerai berwarna kuning keemasan. Merekalah para putri duyung.

Dari ke 6 putri itu, yang paling cantik adalah yang bungsu. Ia baru akan menginjak usia 15 tahun. Ada suatu adat para duyung, jika telah menginjak usia 15 tahun, maka akan diijinkan untuk melihat dunia selain dasar samudera, yaitu dunia di permukaan lautan. Besok Putri Duyung bungsu akan berusia 15 belas tahun. Karena itu kakak-kakaknya kini tengah menceritakan bagaimana keadaan dunia di atas permukaan samudera.
Dongeng tentang Putri Duyung yang jatuh cinta kepada seorang Pangeran, dan mengubah sirip dan ekornya yang indah menjadi kaki
Putri Duyung itu berambut kuning keemasan, bersuara merdu dengan ekor dan sirip yang indah

"Di permukaan sana, ada dunia yang sangat indah," kata Putri Sulung.
"Iya, benar sekali. Kamu akan melihat bagaimana bintang-bintang bertaburan di atas langit malam. Bagaikan permata berserak di atas beludru biru yang lembut," timpal putri yang lainnya.
"Kamu juga bisa melihat kilauan sinar matahari pagi yang memantul di atas ombak. Bagaikan kilauan-kilauan emas yang menguning," sambung putri duyung lainnya.
"Dan, angin yang bertiup sepoi-sepoi di rambutmu. Oh.. lembut. Sungguh tiada duanya." kakaknya yang lain menambahkan.

"Wahhh..., benarkah? Rasanya tak sabar ingin segera berumur 15 belas tahun," kata Putri Duyung bungsu itu. Matanya berbinar-binar membayangkan keindahan dunia di atas permukaan samudera.

***

Keesokan harinya, ketika Putri Duyung tepat berusia 15 tahun, diadakanlah pesta yang meriah. Semua penduduk kerajaan laut bergembira. Putri Duyung kini boleh melihat dunia di atas permukaan samudera.

Putri Duyung berenang-renang, berputar-putar dan menyanyi gembira. Ia segera menuju permukaan. Saat ia tiba di permukaan, hari telah mulai malam. Ia kini bisa menghirup udara. Ia pandangi taburan bintang yang berkerlap-kerlip di langit. Bulan purnama yang bulat penuh menguning. Indah sekali. Betul kata kakak-kakakku, dunia di atas permukaan samudera memang sangat indah, kata hati Putri Duyung.

Di kejauhan ia melihat sebuah bayangan hitam besar, terapung di atas lautan. Sesekali terlihat pancaran cahaya berwarna-warni dari benda itu.

Putri Duyung sangat penasaran. Ia mendekati benda hitam itu. Ternyata sebuah kapal yang sangat indah. Ada pesta di atas kapal itu. Terdengar bunyi musik yang sangat indah. Orang-orang berdansa dan tertawa-tawa gembira. Rupanya pancaran cahaya berwarna-warni yang dilihatnya tadi berasal dari kembang api yang dinyalakan. Di pinggir kapal, tampak seorang pemuda. Ia sangat gagah dan tampan. Seorang Pangeran! Ruapanya ia tengah merayakan ulang tahunnya yang ke 17.

Putri Duyung sangat ingin mendekat, tetapi ia takut terlihat.

Tiba-tiba angin berhembus kencang. Langit yang tadi berbintang kini gelap gulita. Orang-orang di atas kapal itu kemudian berhenti berpesta. Mereka menaikkan layar dan bersiap pulang. Tetapi kini cuaca semakin garang. Ombak bergulung-gulung. Badai menerjang. Kapal indah itu terombang-ambing. Dan akhirnya tenggelam.

Orang-orang di kapal itu ternyata tidak bisa berenang selincah Putri Duyung. Mereka memiliki kaki, bukan sirip dan ekor seperti yang dimiliki Putri Duyung. Pangeran sendiri tak berdaya dan akhirnya tenggelam.

Putri Duyung mengikuti tubuh Pangeran yang kini melayang turun. Sepertinya Pangeran telah pingsan. Putri Duyung sadar, bahwa ia harus menolongnya.

Dengan susah payah, ditariknya tubuh Pangeran. Ia berenang menuju pantai. Ketika sampai hari telah pagi dan langit kembali menjadi terang. Ia meletakkan Pangeran di atas pasir.

Tiba-tiba seseorang sepertinya datang ke pantai itu. Seorang gadis yang sangat cantik. Putri Duyung segera bersembunyi. Melihat ada orang terdampar di pasir, gadis itu berteriak memanggil orang kampung dan meminta pertolongan. Akhirnya Pangeran dapat diselamatkan.

Hati Putri Duyung senang, Pangeran itu selamat.



Setelah kejadian itu, Putri Duyung selalu teringat dengan Pangeran. Ia jatuh cinta kepadanya. Akhirnya ia mengutarakan isi hatinya kepada kakak-kakaknya. Ia ingin ke daratan dan menemui Pangeran itu.

"Tidak mungkin kamu ke daratan adikku," kata kakaknya yang sulung.
"Iya, betul. Tidak mungkin. Kita tidak mempunyai kaki. Bagaimana kita bisa berjalan di daratan. Tempat kita di dalam samudera. Bukan di daratan." kakaknya yang lain menimpali.
"Tetapi aku ingin sekali..." kata Putri Duyung lagi.

Semua saudara Putri Duyung bungsu iba. Tetapi mereka tidak dapat menolongnya.

***

Beberapa waktu kemudian, Putri Duyung teringat akan seorang penyihir sakti yang ada di dasar samudera. Walaupun ia pernah mendengar cerita bahwa penyihir itu tinggal di tempat yang jauh dan angker, Putri Duyung tidak gentar. Ia kemudian pergi menemuinya.

Benar saja. Penyihir itu tinggal di tempat yang paling sulit didatangi. Jalan menuju rumahnya gelap dan menyeramkan. Tetapi, berkat kegigihannya, Putri Duyung sampai juga di rumah penyihir itu.

"Apa yang dapat aku bantu, Putri Duyung?" kata si Penyihir.
"Aku ingin menjadi manusia. Aku ingin mengubah ekor dan siripku menjadi kaki", kata Putri Duyung.

"Tapi itu bukan perkara yang mudah Putri Duyung," jawab si Penyihir.
"Aku bisa mengubah ekor dan siripmu menjadi kaki. Tetapi kamu akan membayarnya dengan sesuatu yang sangat berharga. Kau akan membayarnya dengan sangat mahal. Kau akan kehilangan suaramu yang merdu. Dan, terasa sangat menyakitkan. Lalu, sekali kamu berubah menjadi manusia, kamu tidak akan dapat kembali menjadi duyung. Bila kau gagal menikahi Sang Pangeran, maka kamu akan berubah menjadi buih lautan untuk selama-lamanya," sambung Si Penyihir lagi.

"Aku akan sanggup," jawab Putri Duyung sangat yakin.
"Baiklah jika memang demikian. Pergilah kamu ke daratan. Minumlah ramuan ini. Dalam beberapa saat dan rasa sakit yang amat sangat, ekor dan siripmu akan berubah menjadi sepasang kaki untuk berjalan." kata Si Penyihir sambil menyodorkan sebotol kecil ramuan berwarna hitam.

Begitulah, Putri Duyung kemudian berenang menuju permukaan samudera. Dengan susah payah ia menuju kerajaan Sang Pangeran. Di atas pasir pantai Putri Duyung mulai meminum ramuan dalam botol kecil. Tenggorokannya terasa sangat sakit dan panas rasa terbakar. Perlahan-lahan ekor dan siripnya telah berubah menjadi sepasang kaki. Ia telah berubah menjadi manusia. Putri Duyung mencoba berdiri, tetapi telapak kakinya terasa seperti ditusuk-tusuk dengan pisau. Demikian besar rasa sakit yang ditanggungnya, telah membuat Putri Duyung jatuh pingsan.

Sang Pangeran yang sedang berjalan-jalan di pantai akhirnya menemukan Putri Duyung yang telah menukar ekor dan siripnya dengan kaki itu. Ia begitu kasihan melihatnya. Ditolong dan dirawatnya gadis itu. Pangeran sangat sayang padanya. Pangeran menganggapnya bagai adik kandungnya sendiri.

Ketika Putri Duyung telah sadar dan mulai mampu berjalan, Sang Pangeran tengah sibuk mempersiapkan pesta perkawinannya. Ia akan menikahi gadis cantik yang menemukannya di pantai dan dianggapnya telah menolongnya.

Mengetahui hal tersebut, Putri Duyung mencoba menjelaskan kepada Sang Pangeran, bahwa dialah yang sebenarnya menolong Pangeran. Tetapi apa daya. Ia telah kehilangan suaranya. Ramuan dari Penyihir telah membuatnya bisu. Ia tak bisa mengucapkan sepatah katapun.

Putri Duyung sangat kecewa. Ia akhirnya berlari menuju pantai. Aku telah gagal menikahi Sang Pangeran. Aku akan menjadi buih untuk selama-lamanya, pikir Putri Duyung.

Ketika ia sampai di pantai, kakak-kakaknya yang sangat sayang padanya telah ada di sana. Mereka sangat kasihan pada adiknya.

Rupanya mereka datang ke pantai untuk memberikan pertolongan agar Putri Duyung tidak berubah menjadi buih-buih lautan.
"Adikku, ambillah pisau ini. Bunuhlah Pangeran dengannya. Kami telah menukar rambut-rambut kami yang indah dengan pisau ini kepada Si Penyihir. Bila kau dapat membunuh Pangeran, maka kau akan terhindar dari kutukan dan akan kembali menjadi duyung. Kaki-kakimu itu akan kembali menjadi sirip dan ekor yang indah." Demikian kata si sulung sambil menyodorkan sebuah pisau belati yang berkilat-kilat tajam.
"Ya, dan kau akan dapat berkumpul lagi bersama kami dan ayah, adikku," kata kakaknya yang lain.

Putri Duyung menerima pisau itu. Ia kembali ke istana Pangeran.

Putri Duyung menyelinap ke dalam kamar Pangeran. Dilihatnya Sang Pangeran sedang tertidur lelap. Besok adalah hari pernikahannya. Ia harus membunuh Sang Pangeran agar dapat kembali berwujud sebagai duyung.

Perlahan-lahan diangkatnya pisau belati itu, siap menusuk jantung Sang Pangeran. Tetapi ia terdiam. Putri Duyung tidak sanggup membunuh orang yang sangat dicintainya itu. Putri Duyung kemudian berlari keluar istana menuju pantai. Biarlah ia menjadi buih-buih lautan.

Ia menangis sedih. Kakak-kakanya masih menunggu di pantai. Ketika kaki-kakinya menyentuh ombak dan air matanya menetes ke samudera, Ia melemparkan pisau belati yang berkilat-kilat itu ke tengah lautan.

"Selamat tinggal, kakak-kakakku yang baik hati, selamat tinggal ayah, selamat tinggal kerjaan samudera, selamat tinggal Pangeran. Biarlah kutanggung semua ini," katanya sambil terus terisak.

Dewa Angin yang menyaksikan peristiwa itu secara diam-diam, kemudian menjadi iba mendengar tangisannya. Dengan kesaktian Dewa Angin, Putri Duyung yang tubuhnya mulai hancur menjadi buih-buih lautan itu kemudian ditolong. Dijadikannya Putri Duyung seorang Peri Angin. Sosoknya berubah menjadi seorang gadis cantik yang bersayap. Ia melontarkan tubuhnya ke udara dengan indah. Ketabahan hatinya menghadapi kesedihan itu telah membuatnya terbebas dari kutukan menjadi buih-buih lautan, dan tentu dengan bantuan Dewa Angin juga.

Baca Juga; Cerita Maling Kundang Si Anak Durhaka dan Cerita Dunia: Pangeran Kodok


Kamis, 30 Juni 2016

Cerita Dunia: Dongeng Pangeran Kodok

Pernah dengar cerita tentang Pangeran Kodok dan Putri Bungsu? Bagus kok ceritanya. Ini merupakan salah satu dongeng dunia yang sangat terkenal. Ada hikmah dibalik cerita ini yang bisa diambil jadi pelajaran. Yaitu, janji adalah hutang yang harus dilunasi dan, seseorang dengan rupa yang buruk bisa saja merupakan orang yang berhati budiman. Dongeng ini mungkin, bisa diceritakan kepada anak-anak ketika mau berangkat tidur. Mau tau bagaimana ceritanya? Ayo kita simak.

Pada jaman dahulu di sebuah kerajaan, tingallah seorang putri yang sangat elok parasnya. Ia tinggal bersama ayahandanya yang sangat bijaksana. Pun demikian dengan ibunya sang permaisuri. Putri sangat suka bermain bola. Ia mempunyai sebuah bola kesayangan yang berwarna keemasan. Hampir setiap hari sang putri bermain-main dengan bola emasnya itu.

Pada suatu pagi, pergilah sang putri bermain bola di pinggir sebuah danau jernih yang ada di dekat istana. Ia melempar bola, menangkap, dan menggelindingkannya di tanah. Tak bosan-bosan ia bermain bola. Tetapi pada suatu kali lemparan, bola itu menggelinding dan masuk ke dalam danau.

Putri segera berlari dan melihat bola emasnya tenggelam perlahan. Danau itu airnya sangat jernih tetapi sangat dalam. Ia bisa melihat bola emasnya dari pinggir danau. Tetapi ia tak bisa berenang apalagi menyelam mengambil bola kesayangannya itu. Ia sendirian. Tak ada siapa-siapa yang bisa menolongnya untuk mengambil bola emas.
Kisah seorang pangeran yang dikutuk menjadi seekor kodok dan menemukan jodoh dan pembebasannya dengan menolong seorang putri dengan bola emas
dan bola emas itu jatuh ke dalam danau

Lamat-lamat, putri mulai terisak. Ia menangis. Ingin putri meraih bola yang tampak berkilauan dari dasar danau. Pipinya yang putih kemerahan telah basah dengan air mata.

“Huuu..uuuu.uuuuuuu.....”, isaknya.

“Mengapa menangis Tuan Putri? Lihatlah, gaunmu yang indah kotor terkena lumpur. Mengapa engkau menangis dan berjongkok di pinggir danau ini seorang diri?” Tiba-tiba terdengar suara, entah dari mana asalnya. Mungkin datang dari rerimbunan semak yang ada di pinggir danau.

Putri kaget. Ia mencoba mencari-cari siapa orang yang telah menegurnya itu. Tetapi ia tak menemukannya. Hanya seekor kodok besar berwarna hijau dengan kulitnya yang berbenjol-benjol dan berlendir yang ada di sana.

“Siapa yang tadi berbicara? Kau kah kodok hijau besar? Mungkinkah kamu dapat berbicara layaknya seorang manusia?”, tanya Putri penuh selidik.

Kodok hijau besar mengerjap-ngerjapkan matanya yang hitam besar. Terdengar lagi suara itu. Suara seorang laki-laki, dan mulut kodok hijau juga tampak bergerak-gerak. “Ya Tuan Putri, sayalah yang berbicara dengan Tuan Putri. Saya kodok hijau besar yang buruk rupa ini.”

Terbengong-bengonglah Putri menemukan kodok itu pandai berbicara seperti manusia. Tetapi setelah habis kebingungannya, muncullah ide dari Putri. Ia berkata kepada Kodok Hijau Besar. “Mau kah kau menolongku, wahai Kodok Hijau Besar? Bola emas kesayanganku jatuh ke dalam danau. Airnya jernih tetapi sangat dalam. Aku tidak bisa berenang dan menyelam untuk mengambilnya. Maukah kau menolongku?”

Kodok Hijau Besar mengerjap-ngerjapkan matanya yang hitam. Ia melompat mendekati Putri. Kini Kodok Hijau Besar dekat sekali dengan kaki Putri. Jijik juga Putri melihat kodok itu. Ia mundur selangkah.

Kodok Hijau Besar kemudian menyahut.
“Bila aku mau mengambilkan bola emas kesayanganmu, apa hadiahmu untukku?”

“Oh, aku akan berikan apapun keinginanmu. Apapun, wahai Kodok Hijau Besar.”
“Benarkah? Bagaimana kalau aku ingin ikut makan malam bersamamu, di meja makanmu, wahai Tuan Putri?” Tanya Kodok Hijau Besar kepada Putri.
“Boleh. Tentu boleh.”
“Dan... bolehkah aku tidur di kamarmu, bersamamu, wahai Tuan Putri?” Tanya Kodok Hijau Besar lagi.
“Boleh... Sangat boleh, wahai Kodok Hijau Besar yang baik hati,” kata Putri lagi.

Kemudian Kodok Hijau Besar melompat ke dalam air danau. Ia menyelam dan mengambil bola emas dan menyerahkannya untuk Putri. Gadis itu sangat girang. Ia kemudian mengucapkan selamat tinggal kepada Kodok Hijau Besar. Dan Kodok Hijau Besar mengingatkan Putri bahwa nanti malam ia akan ikut makan malam dan tidur bersama Putri.

Putri mengiyakan dan segera berlari-lari pulang sambil bersenandung riang.

***

Malam itu, Putri bersantap bersama Sang Raja dan Permaisuri. Ketika sedang asik menikmati hidangan, terdengarlah bunyi ketukan di pintu.

“Tok...tok...tok.........tok.”
Raja segera memerintahkan pengawal untuk membukakan pintu. Pengawal mulanya menyangka orang yang mengetuk pintu itu telah pergi. Ia tak melihat ada siapapun di depan pintu sampai matanya tertuju ke lantai. Dilihatnya seekor kodok hijau besar ada di lantai. Dialah yang telah mengetuk pintu. Ternyata Kodok Hijau Besar ingin menagih janjinya kepada Putri.

“Wahai Pengawal yang budiman, ijinkan saya masuk. Tuan Putri berjanji akan memperbolehkan saya makan malam bersama dan tidur di kamarnya malam ini karena saya telah membantunya mengambil bola emas di dasar danau.”

Pengawal kemudian melapor kepada Raja. Mendengar laporan Pengawal, Putri terkejut. Ia keberatan. Ia akan merasa jijik jika Kodok Besar Hijau makan di meja bersamanya dan nanti tidur di kamarnya. Tetapi Sang Raja dan Permaisuri yang bijaksana meminta Putri untuk membayar janjinya.

“Pengawal, ajak Kodok Hijau Besar masuk. Biarkan ia makan malam bersama kami. Dan biarkan nanti ia tidur bersama Putri di kamarnya. Putri harus memenuhi janji yang telah diucapkannya.” Demikian kata Sang Raja.

Putri tak dapat berkata apa-apa lagi. Pengawal beranjak mengajak Kodok Hijau Besar masuk.

Kodok Hijau Besar kemudian naik ke atas meja, dan ikut makan bersama Sang Raja, Permaisuri dan Putri. Ia makan dengan lahap. Putri jijik melihatnya.

Selesai makan malam. Raja dan Permaisuri kemudian berpesan kepada Putri untuk memenuhi janjinya yang kedua, yaitu membolehkan Kodok Hijau Besar tidur bersamanya.

***

Kodok Hijau Besar kemudian masuk bersama-sama Putri ke dalam kamar. Putri sangat jijik. Kodok Hijau Besar melompat-lompat dan naik ke tempat tidur. Sang Putri dengan cepat memegang ujung kaki Kodok Hijau Besar dengan berlapis sapu tangan. Dilemparkannya Kodok Hijau Besar dari tempat tidurnya.

Tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi. Kodok Hijau Besar seketika berubah menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Bajunya sangat indah. Jelaslah bahwa ia seorang pangeran.

Putri sangat kaget. Tetapi Sang Pangeran justru berterima kasih kepada Putri.
“Maafkanlah saya, wahai Tuan Putri. Saya sesungguhnya adalah seorang pangerah yang dikutuk seorang penyihir jahat. Memang harus beginilah caranya agar aku terbebas dari kutukan itu. Dan engkau memang sudah ditakdirkan menjadi jodohku,” kata Sang Pangeran.

Putri pun meminta maaf karena telah berlaku kasar dan mencoba mengelak dari janjinya.

***

Akhirnya Sang Raja menikahkan Putri dengan Pangeran. Ketika upacara pernikahan selesai, datanglah sebuah kereta kecana yang gemerlapan menjemput kedua mempelai. Pangeran memohon ijin kepada Sang Raja untuk memboyong Putri ke istananya. Dan Raja pun mengijinkannya. Mereka kemudian hidup bahagia selama-lamanya.

Dongeng ini diadaptasi dari Cerita Pangeran Kodok dan Putri Bungsu karya Jacob dan Wilhelm Grimm (Grimm Bersaudara 1785 - 1863, dari Jerman).

Jumat, 04 Maret 2016

Cerita Legenda Terbentuknya Danau Toba

Danau Toba yang terletak di provinsi Sumatera Utara itu telah terkenal keindahannya ke mana-mana, ke berbagai belahan penjuru dunia. Secar ilmiah, Danau Toba terbentuk dari letusan gunung berapi purba yang sangat dahsyat pada jaman dulu. Akan tetapi, masyarakat di sekitar wilayah Danau Toba mempunyai cerita tersendiri tentang terbentuknya Danau Toba: sebuah cerita legenda yang abadi pula sepanjang masa dan telah dituturkan sebagai pengantar cerita tidur dari generasi ke generasi. Bagaimanakah kisah legenda terbentuknya Danau Toba menurut orang-orang Batak yang mendiami sekitar wilayah Danau Toba?

Pada jaman dahulu kala, di sebuah lembah nan subur hiduplah seorang pemuda bernama Toba. Kerjanya bertani dan berladang. Suatu hari ia ingin makan dengan lauk ikan. Maka pergilah ia ke sebuah sungai kecil yang mengaliri lembah itu.Toba membawa kain, umpan dan tempat ikan. Ia berdoa semoga nanti ia dapat beroleh ikan yang besar-besar dan banyak.

Sesampainya di sungai, iapun mulai memasang kailnya. Benar saja, tak berapa lama umpannya telah dimakan ikan. Alangkah gembiranya hati Toba ketika ditariknya kain itu, ia bisa melihat betapa besar ukuran ikan yang kena pancingnya. Perlahan-lahan ditariknya kail ke arah tepi sungai. Ikan itu besar sekali, dan sisiknya berkilau keemasan. Cantik sekali. Tetapi belum sampai ia menangkap ikan besar keemasan itu, ia mendengar sebuah suara merdu. Ikan besar berwarna kuning emas itu ternyata pandai berbicara.
legenda asal mula terbentuknya Danau Toba dan Pulau samosir di Provinsi Sumatera Utara.
cerita legenda asal mula terbetuknya Danau Toba dan Pulau samosir

Ikan besar memohon kepada Toba agar tidak menangkap dan memakannya, karena sesungguhnya ia bukanlah benar-benar ikan biasa. Toba yang masih kaget semakin terperangah ketika ikan indah itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Rambutnya hitam bagai malam dan kulitnya putih kekuningan. Tubuhnya tinggi semampai berdiri jenjang di tepi sungai.Seketika Toba jatuh cinta dengan gadis cantik jelmaan ikan bersisik emas itu. Ia ternyata bernama Nauli.

Toba kemudian meminang dan menikahi Nauli. Gadis cantik jelmaan ikan itu tidak serta merta menerima pinangan Toba. Ia meminta sebuah syarat, agar Toba berjanji untuk tidak akan pernah menyebut-nyebut asalnya sebagai penjelmaan ikan. Toba kemudian menyanggupi. Syarat yang sangat mudah pikir Toba.

Teruskan Membaca »

Rabu, 16 September 2015

Cindelaras dan Ayam Jago : Cerita Anak dari Jawa Timur

Cindelaras dan Ayam Jago : Cerita Anak dari Jawa Timur


Ini adalah sebuah cerita rakyat dari Jawa Timur. Kisah tentang seorang anak bernama Cindelaras. Kisah ini memberikan hikmah kepada kita bahwa suatu kejahatan, kelicikan, dan persekongkolan karena kedengkian biar bagaimanapun rapi disimpan dan dirancang, tetap akan terbongkar di kemudian hari. Selain itu, kita juga dapat memetik hikmah bahwa berjudi itu tidak baik karena dapat membuat seseorang kehilangan segala-galanya yang dia miliki. Apalagi tentunya berjudi itu dilarang keras dalam agama. Mau tau bagaimana cerita tentang Cindelaras dan ayam jagonya? Ayo disimak kisahnya.

cindelaras dan ayam jago cerita anak rakyat jawa timur
Cindelaras sangat sayang dengan ayam jagonya

Persekongkolan Selir dan Tabib Istana

Pada jaman dahulu, di wilayah Jawa Timur tersebutlah sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Jenggala. Sang Prabu bernama Raden Putra. Ia mempunyai seorang permaisuri dan seorang selir. Baginda Raden Putra sangat menyayangi permaisuri, tetapi begitu pula kepada selirnya. Akan tetapi, rupanya selir raja tidak puas dengan kedudukannya saat ini. Apalagi dari tabib istana ia mendapatkan bocoran bahwa permaisuri kini sudah mengandung. Ia takut kalau posisinya di mata Raden Putra menjadi lemah dan tersisih. Kehadiran seorang putra atau putri dari permaisuri tentu dapat merubah segalanya bukan?

Diam-diam ia menyusun sebuah rencana jahat. Dipanggilnya tabib istana untuk membuat persekongkolan untuk menyingkirkan permaisuri dari istana. Jika rencananya berhasil, maka tabib akan diberi hadiah istimewa.

Pada suatu hari, selir raja sakit keras. Raden Putra sangat gundah. Ia meminta tabib istana memberikan pengobatan terbaik yang mungkin dapat diberikannya. Tabib mengatakan kepada baginda raja Raden Putra bahwa ia akan berusaha sebaik-baiknya untuk menyembuhkan selir. Ia mengatakan kepada Raden Putra bahwa sakitnya selir disebabkan oleh racun. Selir memperkuat perkataan tabib istana bahwa ia merasa telah diracun oleh permaisuri.

Sontak Raden Putra marah. Ia memanggil permaisuri dan kemudian berniat menghukumnya. Raja Raden Putra memerintahkan patih istana untuk membunuh permaisuri yang telah meracun selir di hutan yang ada di tepi kerajaan Jenggala. Permaisuri mencoba membela diri, tetapi fitnah kejam telah ditujukan padanya oleh tabib kerajaan dan selir. Tidak ada cara yang dapat dilakukannya untuk membela diri.

Teruskan Membaca »

Senin, 31 Agustus 2015

Cerita Legenda dari Lombok : Putri Mandalika – Nyale

Cerita Legenda dari Lombok : Putri Mandalika – Nyale


Ada tradisi yang khas dan dianggap sakral di Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat. Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok pada daerah pesisir selatan setahun sekali mengadakan upacara adat Bau Nyale (Menangkap Nyale-cacing laut). Dan, upacara menangkap nyale yang hanya berlangsung setahun sekali (sekitar bulan Februari dan Maret) selalu dikaitkan dengan sebuah cerita legenda yang sangat merakyat. Nyale adalah jelmaan Putri Mandalika. Demikian kepercayaan masyarakat Suku Sasak. Lalu bagaimanakah cerita tentang Putri Mandalika yang menjelma menjadi Nyale, cacing laut ini. Yuk kita simak.

Dahulu, di Pulau Lombok pada daerah pesisir selatannya, terdapat sebuah kerajaan yang sangat makmur. Kerajaan yang bernama Tunjung Bitu ini diperintah oleh seorang raja yang sangat bijaksana. Paduka Raja bergelar Tonjang Beru. Raja Tonjang Beru berpermaisurikan Dewi Seranting. Begitu bijaksananya Sang Raja Tonjang Beru memimpin negeri, semua rakyat merasa tentram, damai sejahtera. Hasil bumi melimpah ruah. Lumbung-lumbung penuh berisi cadangan makanan. Tak pernah terdengar adanya keluhan dari rakyat Tunjung Bitu.

Kebahagiaan rakyat Kerajaan Tunjung Bitu beserta Raja Tonjang Beru dan Permaisuri Dewi Seranting bertambah-tambah ketika mereka dikaruniai seorang putri yang cantik jelita. Tampak jelas parasnya yang elok diwariskan dari ibunya Dewi Seranting, sementara tingkah lakunya yang bijak bestari diturunkan dari kearifan Raja Tonjang Beru. Putri ini diberi nama Putri Mandalika. Sebuah nama yang indah, pantas untuk diberikan kepadanya.

Singkat cerita, putri cantik tersebut telah tumbuh menjadi gadis remaja. Kecerdasan, kepandaian, keelokan paras yang yang utama budi pekertinya telah menjadi pembicaraan rakyat kerajaan Tunjung Bitu. Demikian mahsyurnya nama Putri Mandalika dengan segala pesonanya menyebar hingga ke seluruh penjuru Lombok dan daerah sekitarnya.

Sebagai kembang yang sedang mekar, Putri Mandalika menarik kedatangan kumbang-kumbang. Puluhan putra mahkota dan pangeran dari berbagai kerajaan di sekitar Tunjung Bitu mulai megajukan lamaran. Semua ingin menyunting bunga yang semerbak itu. Sebagai seorang putri raja, urusan perjodohan bukanlah hal sederhana. Ternyata pesona Putri Mandalika memunculkan masalah serius.

Teruskan Membaca »

Minggu, 08 Februari 2015

Cerita Rakyat : Lutung Kasarung dan Putri Purbasari

cerita lutung kasarung dari jawa barat
air telaga itu membuat kulit Putri Purbasari semakin halus

Cerita Rakyat Lutung Kasarung dan Putri Purbasari


Pada jaman dahulu, di Tanah Pasundan (Jawa Barat), tersebutlah sebuah kisah yang sangat terkenal hingga kini, yaitu kisah tentang Lutung Kasarung. Kisah ini menjadi cerita yang tetap populer hingga saat ini karena banyaknya kandungan hikmah di dalamnya. Adalah Sanghyang Guruminda yang dihukum dengan dibuang ke bumi karena melakukan kesalahan di kayangan dalam wujud seekor lutung. Sebagai seekor lutung, Sanghyang Guruminda tersesat di sebuah hutan, sehingga ia diberi nama Lutung Kasarung. Lutung Kasarung dalam bahasa Sunda berarti lutung yang tersesat. Lutung adalah sejenis kera dengan bulu lebat berwarna hitam legam dengan ekor yang panjang.
Teruskan Membaca »

Minggu, 01 Februari 2015

Bawang Merah dan Bawang Putih (Sebuah Cerita Rakyat)

cerita bawang merah dan bawang putih
dan kain berwarna merah itupun hanyut terbawa arus deras

Cerita Rakyat: Bawang Putih dan Bawang Merah


Pada jaman dahulu kala, tersebutlah seorang gadis cantik dan baik budi yang bernama Bawang Putih. Gadis ini tinggal bersama ibu dan kakak tirinya yang bernama Bawang Merah. Bawang Putih diperlakukan dengan sangat kejam. Setiap hari ia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara kakak tirinya Bawang Merah, hanya bermalas-malasan. Bila ia sedikit saja melakukan kesalahan, maka hukumanlah yang akan ia terima. Bawang Putih selalu bangun pagi dan mengerjakan semua pekerjaan di rumah itu, lalu tidur lebih malam dari ibu dan kakaknya. Pekerjaan rumah seperti tak pernah ada habisnya. Ada-ada saja pekerjaan yang diberikan oleh ibu dan kakaknya itu.
Teruskan Membaca »

Minggu, 25 Januari 2015

Legenda Sangkuriang dan Asal-Usul Gunung Tangkuban Perahu

legenda sangkuriang dan gunung tangkuban perahu
Sangkuriang sangat marah, ditendangnya perahu itu dengan keras..

Cerita Legenda: Sangkuriang dan Asal-Usul Gunung Tangkuban Perahu


Kisah ini bermula dari seorang dewa dan seorang dewi yang karena kesalahan yang dibuatnya di kayangan, akhirnya harus menjalani hukuman di dunia. Keduanya dihukum untuk berbuat kebaikan dalam hidupnya di bumi dalam bentuk seekor babi hutan dan seekor anjing. Babi hutan jelmaan dewi itu bernama Wayung Hyang, sedangkan anjing jelmaan dewa itu bernama Tumang. Wayung Hyang karena dihukum sebagai babi hutan atau celeng, maka ia berusaha melakukan berbagai kebaikan di dalam sebuah hutan. Sementara Tumang, sang anjing jelmaan dewa itu mengabdi sebagai anjing pemburu pada seorang raja yang bernama Sumbing Perbangkara.
Teruskan Membaca »

Jumat, 23 Januari 2015

Cerita Rakyat : Keong mas

cerita rakyat keong mas
keduanya terpesona melihat udang dan keong emas

Cerita Rakyat dari Pulau Jawa – Keong Emas


Dahulu kala, di sebuah desa di tanah Jawa, hiduplah seorang pemuda gagah bernama Galoran. Akan tetapi, berbeda dengan tampilan fisiknya yang menarik, kepribadian dan tabiatnya sungguh jelek. Galoran setiap hari hanya berfoya-foya. Ayahnya yang merupakan saudagar kaya raya hanya bisa mengelus dada. Galoran mabuk dan berjudi setiap hari. Akhirnya seluruh harta benda ayahnya habis dan orang tua itupun meninggal dunia. Kini Galoran kehidupannya berbalik arah: miskin dan bangkrut.

Beberapa orang masih bersimpati kepadanya. Itupun hanya karena mereka terkenang akan kebaikan ayah Galoran semasa masih hidup. Mereka memberi pekerjaan kepada Galoran, tetapi tetap saja tabiatnya tak berubah: malas. Setiap pekerjaan yang diberikan, tidak pernah diselesaikan dengan baik. Ini berlangsung bertahun-tahun bahkan hingga Galoran telah cukup berumur.
Teruskan Membaca »

Selasa, 20 Januari 2015

Cerita Rakyat : Malin Kundang Si Anak Durhaka

cerita Malin Kundang durhaka
Malin Kundang Si Anak Durhaka

Cerita Rakyat : Malin Kundang Si Anak Durhaka


Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa nelayan di pesisir Sumatra, hiduplah sebuah keluarga miskin. Mereka terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak laki-laki. Begitu miskinnya mereka, gubuk tempat tinggalnya yang terbuat dari daun dan pelepah nipah, bergoyang-goyang tertiup angin. Pakaian mereka compang-camping. Badan mereka kurus kering karena kurang makan.

Malin Kundang, demikian nama anak laki-laki itu. Ia sebenarnya anak yang tampan, cerdas dan tangkas. Hanya saja, tubuhnya yang kurus dan balutan baju yang buruk membuatnya tampak sangat jelek dalam pandangan mata. Malin Kundang mempunyai bekas luka di siku tangan kanannya. Bekas luka itu cukup besar sehingga sangat mudah terlihat. Ia pernah terjatuh sewaktu mengejar anak-anak ayam tetangga dan terluka akibat terjerembab di atas batu.

Teruskan Membaca »

Senin, 15 Desember 2014

Legenda : Telaga Moyang Manis (Belitung)

http://satuislam.org/wp-content/uploads/2014/01/telaga-2.jpg
Hijau dedaunan tampak menatap ragu. Dahan pohon melambai-lambai lesu tertiup angin. Tanah terlihat retak dan kering. Sumber-sumber mata air sepi dari jamahan penduduk, karena airnya kering kerontang. Tanpa disangka dan diduga musim kemarau kali ini datang lebih awal dari biasanya. Tak hanya itu musim kemarau ini terjadi sangat panjang.  Alhasil air di sungai, rawa-rawa, atau sumur menjadi lebih cepat kering.
Seluruh penduduk di Pulau Belitung kesulitan mendapatkan air. Tak terkecuali dengan penduduk di Kelekak Pancor. Satu-satunya sumber air yang tidak pernah kering hanya ada di antara dua bukit yang jaraknya lebih kurang 13-14 km dari tempat itu. Tempat itu bernama Selangan Libot (selangan = antara ; libot = dua bukit).
Meskipun jaraknya cukup jauh dari Kelekak Pancor penduduk tetap berbondong-bondong berjalan kaki ke Selangan Libot untuk mengambil air. Penduduk silih berganti menuju mata air itu, dari pagi buta hingga malam hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
*************
“Aku haus, aku haus ingin minum tapi tidak ada air” Manis berkata disela-sela tangisannya sambil meraung-raung.
 Tangisan Manis yang cukup keras terdengar oleh saudaranya Tuk Pancor. Tuk Pancor yang tengah berada di ladang segera berlari ke rumah untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Ketika tiba di rumah alangkah terkejutnya Tuk Pancor karena melihat Manis, saudaranya yang paling kecil tengah menangis kehausan di halaman depan rumah mereka. Tuk Pancor lalu mendekati Manis dan berusaha menenangkannya.
“Sabar Manis, tunggu lah sebentar lagi Nek Pancor pulang dari Selangan Libot mengambil air” dengan penuh kasih sayang Tuk Pancor membujuk Manis seraya mengelus-elus kepalanya.
“ Di mana-mana tidak ada air, aku ingin minum” jawab manis sambil terus menangis.
Meskipun Tuk Pancor sudah berusaha keras menenangkan Manis, tapi dia menangis semakin menjadi-jadi. Tuk Pancor tidak tega melihat Manis yang terus menangis karena lelah dan kehausan. Seketika itu pula, Tuk Pancor mengambil tempat air dan  bergegas menuju Selangan Libot untuk mengambil air.
Musim kemarau memang selalu hadir dengan berbagai suka citanya. Ada yang merasa kesusahan saat musim kemarau tiba, karena kesulitan mencari air. Di sisi lain ada yang merasa agak nyaman saat beraktifitas di luar rumah tanpa takut kehujanan. Apalagi sebagian besar penduduk Kelekak Pancor bekerja di ladang.
Cuaca yang panas di siang hari saat musim kemarau, memang membuat banyak orang beraktifitas di luar rumah. Orang-orang dewasa pergi untuk berladang atau melakukan pekerjaan rumah lainnya, sementara anak-anak menjadi semakin girang bermain di luar rumah. Kebanyakan anak-anak berkumpul bersama teman-temannya lalu bermain bersama-sama. Hari itu pun Manis pergi bermain bersama teman-temannya sejak pagi hari. Mereka bermain sangat asyik hingga tak menyadari matahari perlahan mulai meninggi dan bersinar semakin terik. Ketika semakin lelah, Manis pun merasa kehausan. Dia lantas pulang ke rumah dan langsung menuju tempayan tempat menyimpan air. Karena tak menemukan setitik air pun, dia terus mencari ke seluruh penjuru rumah untuk melepas dahaganya. Malangnya, Manis tidak menemukan air di rumahnya. Akan tetapi Manis tak kehabisan akal, dia lalu menuju rumah tetangganya untuk meminta air. Hingga lelah mencari Manis tak kunjung menemukan air. Rasa lelah dan haus yang semakin menjadi-jadi membuatnya menangis meraung-raung.
Sepeninggalan Tuk Pancor yang pergi menuju Selangan Libot, Manis terus menangis dan meratap kehausan. Cuaca pun semakin panas karena hari semakin siang. Matahari telah mencapai ketinggian maksimal di singgasananya. Di tengah gumpalan awan-awan putih yang berarak matahari semakin ganas memuntahkan panasnya ke bumi. Manis terus menangis sambil menghentak-hentakan kakinya ke tanah. Semakin haus semakin bertambah keras pula hentakan kakinya ke tanah.
Sementara itu Tuk Pancor berjalan tergesa-gesa dan setengah berlari sambil membawa tempat air. Keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. Rasa lelah sudah pasti dirasakannya. Akan tetapi karena teringat Manis yang tengah kehausan menunggunya, semua kelelahannya seakan tak berarti apa-apa. Saat itu yang ada di benaknya hanyalah satu hal, yaitu sesegera mungkin tiba di Selangan Libot mengambil air untuk Manis dan kembali ke rumah. Di tengah perjalanan Tuk Pancor beberapa kali berpapasan dengan penduduk yang juga mengambil air dari Selangan Libot.
Di halaman depan rumah mereka, Manis terus menangis sembari menanti Tuk Pancor yang pergi mengambil air untuknya. Saat itu rasa hausnya sudah tak tertahankan lagi dan kian memuncak. Tanpa sadar dengan hentakan kakinya Manis telah mengerok tanah semakin dalam. Saat itu juga Manis meratap sambil tangannya menunjuk ke arah tanah tempat dia menghentakkan kakinya,
“apakah saya masih diberi kesempatan untuk hidup, maka keluarkanlah air dari tempat ini” . 
Dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, serta merta terjadilah keajaiban. Pada saat itu juga keluarlah air yang jernih dari tempat itu. Manis bersorak kegirangan dan minum sepuasnya.
Setelah tempat air yang dibawanya terisi penuh, Tuk Pancor segera bergegas kembali ke rumah. Dia sudah tidak sabar ingin menemui Manis dan memberikan air yang dibawanya.  Sepanjang perjalanan Tuk Pancor tersenyum membayangkan wajah Manis yang kegirangan karena akhirnya mendapatkan air. Segala rasa lelah sepanjang perjalanan seakan terbayar dengan hal itu. 
Air dari dalam tanah itu memancar semakin deras. Manis semakin kegirangan dan terus minum hingga hausnya tak terasa lagi. Dari kejauhan terlihat Tuk Pancor terengah-tengah karena berlari mengambil air untuk Manis. Dia tidak tega melihat saudaranya tersiksa kehausan, karena ketika ditinggalkannya tadi Manis sudah sangat letih. Namun ketika sudah dekat dengan rumahnya Tuk Pancor tidak lagi mendengar suara tangisan Manis. Saat semakin dekat dengan rumahnya, Tuk Pancor semakin terheran-heran karena Manis tidak lagi menangis. Manis terlihat segar bugar dan telah bermain dengan riangnya, tidak terpancar sedikitpun keletihan di wajahnya. Bahkan yang lebih mengherankan lagi ternyata Manis bermain dengan air.
Menyaksikan hal tersebut Tuk Pancor segera menghampiri Manis. Tuk Pancor segera menanyakan bagaimana cara Manis mendapatkan air serta berusaha melarang Manis bermain air karena saat itu air sulit di dapat.
“Manis bagaimana kamu bisa mendapatkan air? Bukankah tadi kau menangis karena kehausan? Lantas jangan kau buang-buang begitu saja air ini, karena saat ini kita semua tengah kesulitan untuk mendapatkan air”  Tuk Pancor bertanya dengan masih diliputi rasa heran.
“Air ini dari dalam tanah” jawab Manis dengan polos.
Manis semakin girang dan terus bermain dengan air itu. Sementara Tuk Pancor semakin bingung dan heran mendengar jawaban Manis. Maka dia pun kembali bertanya kepada Manis.
“Manis sayang, bisakah kau ceritakan bagaimana air ini bisa muncul dari dalam tanah?”
“Tadi sambil menangis aku menghentak-hentakkan kakiku ke tanah, semakin lama semakin keras kuhentakkan kakiku karena semakin lelah dan haus aku berdoa meminta air dari dalam sini”
Manis menjawab seraya menunjuk ke tanah yang saat ini memancarkan air.
Mendengar jawaban Manis, Tuk Pancor pun merasa lega bercampur heran. Semakin lama, sumber air itu semakin memancarkan air dengan deras.
Sejak saat itu penduduk di Kelekak Pancor tidak lagi kesulitan menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air. Mereka merasa senang karena kebutuhan sehari-harinya terpenuhi.
Hingga saat ini sumur tersebut dikenal dengan nama Telaga Moyang Manis. Sumur itu merupakan tanah cekung bekas galian yang besar, garis tengahnya kira-kira dua meter dan dalamnya kira-kira enam puluh sentimeter. Letaknya tidak jauh dari Sungai Pancor atau sungai tempat Tuk Pancor mendarat untuk pertama kali di daerah itu.  

Jumat, 26 September 2014

Cerita Hikmah: Bapak, Anak, dan Keledai

Cerita Hikmah: Bapak, Anak, dan Keledai
Di mana rasa sayangmu terhadap anak itu?

Cerita Hikmah: Bapak, Anak, dan Keledai


Pasa suatu masa, di sebuah negeri dikisahkan, ada dua orang anak beranak yang ingin pergi ke suatu pasar untuk menjual seekor keledai. keadaan Bapak, Anak, dan keledai itu serba tanggung. Bapak itu berumur agak lanjut, tetapi masih cukup kuat untuk berjalan. Si Anak sendiri juga tanggung, ia adalah remaja yang belum dapat di sebut dewasa, tetapi juga tidak dapat lagi dikatakan anak-anak. Sementara si keledai, adalah keledai yang sehat kuat tetapi badannya beukuran agak kecil.

Pagi-pagi, berangkatlah mereka menuju pasar yang letaknya agak jauh dan harus ditempuh dalam perjalanan setengah hari. Bapak dan Anak, dengan membawa bekal makanan yang cukup untuk diperjalanan segera naik ke punggung keledai. Mereka menaiki keledai itu selama beberapa jam, hingga akhirnya tiba di sebuah kampung dengan kerumunan orang-orang. Demi melihat seekor keledai kecil dinaiki oleh Bapak dan Anak itu, berbisik-bisiklah orang-orang itu. Kemudian salah satu dari mereka berbicara.

Teruskan Membaca »

Cerita Hikmah : Bangau, Tujuh Ikan Mas, dan Kepiting

Cerita Hikmah : Bangau, Tujuh Ikan Mas, dan Kepiting
Bangau tertawa licik, sadarlah Kepiting ...

Cerita Hikmah : Bangau, Tujuh Ikan Mas, dan Kepiting


Kali ini saya ingin bercerita. Tentu cerita berikut bukan sekedar cerita, tetapi mengandung hikmah. Cerita ini berjudul Bangau, Tujuh Ikan Mas, dan Kepiting. Cerita ini adalah cerita yang pernah saya baca, tetapi saya lupa kapan. Mungkin ada sedikit perbedaan dengan cerita aslinya, tetapi pada intinya sama. Baiklah, sekarang kita simak ya ceritanya.

Dahulu kala, di sebuah danau yang sangat indah, hiduplah tujuh ekor ikan mas, seekor kepiting, dan seekor bangau yang saling bersahabat. Mereka selalu tolong-menolong jika ada di antara mereka yang membutuhkan bantuan. Mereka hidup rukun dan damai.

Akan tetapi kebahagiaan itu berakhir karena kemarau yang sangat panjang. Air danau yang dulu jernih, penuh makanan bagi semua binatang ini menjadi kering berlumpur.  Tentu ketujuh ikan mas dan kepiting kesulitan. Jangankan mencari makanan, untuk bernapas saja ikan-ikan mas itu sangat kesulitan. Lumpur  membuat insang mereka tidak dapat berfungsi dengan baik. Kepiting masih sedikit beruntung karena ia lebih dapat bertahan pada kondisi demikian.

Ketika keadaan semakin kritis, datanglah burung bangau sahabat mereka. Bangau memang tidak selalu ada di danau itu. Sering ia pergi berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan ke tempat-tempat lain. Melihat keadaan sahabat-sahabatnya, segera ia menawarkan bantuan. Katanya kepada ketujuh ikan mas dan kepiting,

“Maukan kalian kutolong untuk pergi dari tempat yang sudah seperti neraka ini?”

Teruskan Membaca »

Minggu, 25 Mei 2014

Kecurangan Dan Lubang Di Hati

Kecurangan Dan Lubang Di Hati

Di sebuah kerajaan, hiduplah dua orang putri. Putri pertama bernama Rara, sedangkan putri kedua bernama Dara. Mereka kakak beradik tetapi agak berbeda sifat. Rara yang usianya lebih tua setahun dari Dara lembut dan bijak. Sedangkan Dara mempunyai sifat sedikit ambisius walaupun pada dasarnya juga baik hati. Keduanya sama-sama cantik dan pandai sekali melukis.

Setiap tahun, Raja yang merupakan ayah mereka selalu mengadakan lomba melukis. Lomba itu selalu diikuti oleh banyak orang, baik kalangan bangsawan maupun rakyat jelata. Raja selalu menyediakan hadiah yang menarik untuk sang pemenang. Dalam tiga tahun terakhir, Rara selalu berhasil menjadi pemenang. Rara menjadi pemenag bukan karena ia putri Sang Raja, akan tetapi karena memang lukisannya paling indah di antara semua peserta.

Seperti tahun sebelumnya, kali ini Raja kembali mengadakan lomba melukis. Pengumuman disebarkan ke seluruh penjuru kerajaan. Raja mengajak semua orang untuk mengikuti lomba melukis tersebut. Hadiah yang diberikan sangat menarik: sebuah istana mungil yang dikelilingi kebun bunga yang luas dan amat indah.
Teruskan Membaca »