Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2015

Kisah Ande - Ande Lumut

Dahulu kala, ada dua buah kerajaan, Kediri dan Jenggala. Kedua kerajaan itu berasal dari sebuah kerajaan yang bernama Kahuripan. Raja Erlangga membagi kerajaan itu menjadi dua untuk menghindari perang saudara. Namun sebelum meninggal raja Erlangga berpesan bahwa kedua kerajaan itu harus disatukan kembali.

http://direktoricerita.blogspot.co.id/
Maka kedua raja pun bersepakat menyatukan kembali kedua kerajaan dengan menikahkan putera mahkota Jenggala, Raden Panji Asmarabangun dengan puteri Kediri, Dewi Sekartaji.
Ibu tiri Sekartaji, selir raja Kediri, tidak menghendaki Sekartaji menikah dengan Raden Panji karena ia menginginkan puteri kandungnya sendiri yang nantinya menjadi ratu Jenggala. Maka ia menyekap dan menyembunyikan Sekartaji dan ibunya.

Pada saat Raden Panji datang ke Kediri untuk menikah dengan Sekartaji, puteri itu sudah menghilang. Raden Panji sangat kecewa. Ibu tiri Sekartaji membujuknya untuk tetap melangsungkan pernikahan dengan puterinya sebagai pengganti Sekartaji, namun Raden Panji menolak.

Raden Panji kemudian berkelana. Ia mengganti namanya menjadi Ande-Ande Lumut. Pada suatu hari ia tiba di desa Dadapan. Ia bertemu dengan seorang janda yang biasa dipanggil Mbok Randa Dadapan. Mbok Randa mengangkatnya sebagai anak dan sejak itu ia tinggal di rumah Mbok Randa.

Ande-Ande Lumut kemudian minta ibu angkatnya untuk mengumumkan bahwa ia mencari calon isteri. Maka berdatanganlah gadis-gadis dari desa-desa di sekitar Dadapan untuk melamar Ande-Ande Lumut. Tak seorangpun ia terima sebagai isterinya.

Sementara itu, Sekartaji berhasil membebaskan diri dari sekapan ibu tirinya. Ia berniat untuk menemukan Raden Panji. Ia berkelana hingga tiba di rumah seorang janda yang mempunyai tiga anak gadis, Klething Abang, Klething Ijo dan si bungsu Klething Biru. Ibu janda menerimanya sebagai anak dan diberi nama Klething Kuning.

Klething Kuning disuruh menyelesaikan pekerjaan sehari-hari dari membersihkan rumah, mencuci pakaian dan peralatan dapur. Pada suatu hari karena kelelahan Klething Kuning menangis. Tiba-tiba datang seekor bangau besar. Klething Kuning hampir lari ketakutan. Namun bangau itu berkata, “Jangan takut, aku datang untuk membantumu.”

Bangau itu kemudian mengibaskan sayapnya dan pakaian yang harus dicuci Klething Kuning berubah menjadi bersih. Peralatan dapur juga dibersihkannya. Setelah itu bangau terbang kembali.

Bangau itu kembali setiap hari untuk membantu Klething Kuning. Pada suatu hari bangau menceritakan tentang Ande-Ande Lumut kepada Klething Kuning dan menyuruhnya pergi melamar.

Klething Kuning minta ijin kepada ibu angkatnya untuk pergi ke Dadapan. Ibunya mengijinkan ia pergi bila pekerjaannya sudah selesai. Ia pun sengaja menyuruh Klething Kuning mencuci sebanyak mungkin pakaian agar ia tidak dapat pergi.

Sementara itu ibu janda mengajak ketiga anak gadisnya ke Dadapan untuk melamar Ande-Ande Lumut. Di perjalanan mereka tiba di sebuah sungai yang sangat lebar. Tidak ada jembatan atau perahu yang melintas. Mereka kebingungan. Lalu mereka melihat seekor kepiting raksasa menghampiri mereka.

“Namaku Yuyu Kangkang. Kalian mau kuseberangkan?”

Mereka tentu saja mau.

“Tentu saja kalian harus memberiku imbalan.”

“Kau mau uang? Berapa?” tanya ibu janda.

“Aku tak mau uangmu. Anak gadismu cantik-cantik. Aku mau mereka menciumku.’

Mereka terperanjat mendengar jawaban Yuyu Kangkang. Namun mereka tidak mempunyai pilihan lain. Akhirnya mereka setuju. Kepiting raksasa itu menyeberangkan mereka satu persatu dan mereka pun memberikan ciuman sebagai imbalan.

Sesampainya di rumah mbok Randa, mereka minta bertemu dengan Ande-Ande Lumut.
Mbok Randa mengetuk kamar Ande-Ande Lumut, katanya, “Puteraku, lihatlah, gadis-gadis cantik ini ingin melamarmu. Pilihlah satu sebagai isterimu.”

“Ibu,” sahut Ande-Ande Lumut, “Katakan kepada mereka, aku tidak mau mengambil kekasih Yuyu Kangkang sebagai isteriku.”

Ibu Janda dan ketiga anak gadisnya terkejut mendengar jawaban Ande-Ande Lumut.
Bagaimana pemuda itu tahu bahwa mereka tadi bertemu dengan kepiting raksasa itu? Dengan kecewa mereka pun pulang.

Di rumah, Klething Kuning sudah menyelesaikan semua tugasnya berkat bantuan bangau ajaib. Bangau itu memberinya sebatang lidi.

Ketika ibu angkatnya kembali Klething Kuning sekali lagi meminta ijin untuk pergi menemui Ande-Ande Lumut. Ibu angkatnya terpaksa mengijinkan, namun ia sengaja mengoleskan kotoran ayam ke punggung Klething Kuning.

Klething Kuning pun berangkat. Tibalah ia di sungai besar. Kepiting raksasa itu mendatanginya untuk menawarkan jasa membawanya ke seberang sungai.

“Gadis cantik, kau mau ke seberang? Mari kuantarkan,” kata Yuyu Kangkang

“Tidak usah, terima kasih” kata Klething Kuning sambil berjalan menjauh.

“Ayolah, kau tak perlu membayar,” Yuyu Kangkang mengejarnya.”Cukup sebuah ci... Aduh!”

Klething Kuning mencambuk Yuyu Kangkang dengan lidi pemberian bangau. Kepiting raksasa itu pun lari ketakutan.

Klething Kuning kemudian mendekati tepi air sungai dan menyabetkan lidinya sekali lagi. Air sungai terbelah, dan ia pun bisa berjalan di dasar sungai sampai ke seberang.

Klething Kuning akhirnya tiba di rumah Mbok Randa. Mbok Randa menerimanya sambil mengernyitkan hidung karena baju Klething Kuning bau kotoran ayam. Ia pun menyilakan gadis itu masuk lalu ia pergi ke kamar Ande-Ande Lumut.

“Ande anakku, ada seorang gadis cantik, tetapi kau tak perlu menemuinya. Bajunya bau sekali, seperti bau kotoran ayam. Biar kusuruh ia pulang saja.”

“Aku akan menemuinya, Ibu,” kata Ande-Ande Lumut.

“Tetapi... ia...,” sahut Mbok Randa.

“Ia satu-satunya gadis yang menyeberang tanpa bantuan Yuyu Kangkang, ibu. Ialah gadis yang aku tunggu-tunggu selama ini.”

Mbok Randa pun terdiam. Ia mengikuti Ande-Ande Lumut menemui gadis itu.

Klething Kuning terkejut sekali melihat Ande-Ande Lumut adalah tunangannya, Raden Panji Asmarabangun.

“Sekartaji, akhirnya kita bertemu lagi,” kata Raden Panji.

Raden Panji kemudian membawa Dewi Sekartaji dan Mbok Randa Dadapan ke Jenggala. Raden Panji dan Dewi Sekartaji pun menikah. Kerajaan Kediri dan Jenggala pun dipersatukan kembali.

***

Jika Anda menyukai Cerita Rakyat Kisah Ande - Ande Lumut, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://direktoricerita.blogspot.co.id/).

Senin, 19 Oktober 2015

Asal Usul Kota Banyuwangi

Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.

“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.

“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.

Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.

Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.

Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.

“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.

Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.

Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.

***

Jika Anda menyukai Cerita Rakyat Asal Usul Kota Banyuwangi, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://direktoricerita.blogspot.co.id/).

Aryo Menak dan Tujuh Bidadari

Aryo Menak adalah seorang pemuda yang hidupnya selalu mengembara ke hutan. Suatu malam tepatnya bulan purnama, ia beristirahat di sebuah pohon yang berada di dekat danau, seketika ia melihat cahaya dipingir danau itu dan secara perlahan ia mendekati dan melihat cahaya itu. Ketika ia melihat, ia sangat terkejut karena ada tujuh Bidadari yang sedang mandi dan bersenda gurau.

Cerita Aryo Menak dan Tujuh Bidadari
Ia pun begitu terpesona oleh kecantikan ketujuh bidadari itu, hingga terbesit dalam benaknya kalau ia ingin memiliki satu dari ketujuh bidadari itu dengan mengendap dan mengambil salah satu selendangnya.

Tak lama setelah itu, para Bidadari pun bergegas mengambil pakaiannya dan segera terbang ke istana, namun bidadari termuda tak bis terbang karena selendangnya tidak ada, ia pun merasa sedih dan menangis.

Ketika sang Bidadari menangis, Aryo Menak pun mendekatinya dan berpura-pura tidak tahu dan bertanya apa yang terjadi. Iapun mengatakan.

“Mungkin ini sudah menjadi kehendak para Dewa supaya Bidadari sementara waktu diam di bumi. Saya berjanji akan menghiburmu, janganlah beredih”. Ucap Aryo Menak.

Sang Bidadaripun percaya padanya hingga ia membawa sang Bidadari itu ke rumah. Setelah beberapa lama Aryo Menak melamarnya dan sang Bidadaripun tidak menolaknya.

Meskipun selendangnya sudah tidak ada, namun bidadari masih memiliki ilmu gaib, salah satunya ia bisa memasak sepanci nasi dari satu butir beras namun dengan syarat Aryo Menak tidak boleh menyaksikannya.

Cerita Aryo Menak dan Tujuh Bidadari
Suatu ketika, Aryo Menak penasaran karena beras yang ada di lumbungnya tidak pernah habis padahal istrinya itu selalu memasak setiap hari. Ketika istrinya pergi, Aryo penasaran dan pergi ke dapur untuk membuka panci yang suka dijadikan alat untuk memasak nasi. Perbuatan Aryo itu membuat kekuatan istrinya hilang.

Sang Bidadaripun sangat terkejut ketika ia tahu apa yang terjadi, hingga saat itu ia harus mmemasak beras dari lumbungnya Aryo Menak. Lama kelamaan beras itupun semakin berkurang hingga akhirnya terlihat dasar lumbungnya itu. Ketika hendak mengambil beras, sang Bidadari itu sangat terkejut karena ia melihat selendangnya yang hilang waktu itu. Hingga ketika ia melihat selendang itu, ia memiliki niat untuk pulang ke istana. Dan ketika malam tiba sang Bidadari pun mengenakan selendang itu, tubuhnya lebih ringan dan ia akhirnya bisa terbang ke istana.

Ketika Aryo Menak mengetahui hal itu, diapun sedih karena sang Bidadari telah meninggalkannya. Mulai saat itu ia dan anaknyapun berpantang untuk memakan nasi.

***

Jika Anda menyukai Cerita Aryo Menak dan Tujuh Bidadari, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://direktoricerita.blogspot.co.id/).

Minggu, 18 Oktober 2015

Burung Phoenix Berkepala Dua

Dahulu kala, hidup dua orang sahabat. Mereka bersahabat selama bertahun-tahun dan berbagi apa saja di antara mereka. Mereka bahkan lebih dekat dari dua orang bersaudara.

Suatu saat, salah satu dari mereka sakit. Penyakitnya makin parah dan akhirnya ia meninggal. Sahabatnya sangat sedih. Tak lama kemudian ia juga jatuh sakit dan meninggal.

Beberapa waktu kemudian, kedua sahabat itu dilahirkan kembali dalam wujud seekor burung phoenix berkepala dua. Kedua kepala burung itu sama seperti kedua sahabat itu dulu. Mereka pergi bersama-sama, mencari makanan bersama.

Pada suatu hari seorang pemburu melihat burung itu. Pemburu itu sudah siap menembak burung itu, namun ketika ia melihat kedua kepala burung itu begitu saling menyayangi, ia tidak sampai hati membunuhnya. Akhirnya ia membiarkan burung itu pergi.

Pemburu menceritakan burung istimewa itu kepada teman-temannya. Tersiarlah kabar ke mana-mana bahwa ada seekor burung phoenix berkepala dua hidup di hutan. Burung phoenix adalah hewan yang jarang ada. Apalagi yang berkepala dua!

Berita itu sampai juga ke telinga raja. Raja memerintahkan agar burung itu ditangkap hidup-hidup. Akhirnya burung itu tertangkap dan dibawa kepada raja.

Raja meletakkan burung itu dalam sebuah sangkar besar. Tiap hari ia mengagumi keindahan burung itu.

Raja memberi makan salah satu kepala burung di sebelah kanan. Burung itu menerima makanan dan memberikan sebagian kepada saudaranya. Ketika raja memberikan makanan kepada kepala yang di kiri, kepala itu juga membagi makanannya kepada kepala di kanan. Demikian seterusnya.

Raja memberikan makanan lagi kepada salah satu kepala, lalu ketika kepala itu hendak membagi makanan kepada saudaranya, raja menghalanginya. Kepala yang menerima makanan tidak menelan makanannya, tapi justru membuangnya. Demikian juga dengan kepala satunya.

Raja menjadi marah. Ia merasa burung itu tidak mematuhi perintahnya. Raja lalu memanggil penasihat dan menyuruhnya memisahkan kedua kepala itu.

Penasihat tidak tau bagaimana melakukan tugas itu. Ia berusaha mengulur waktu dengan minta raja megijinkannya membawa burung itu pulang dan minta waktu selama sebulan. Raja setuju dan penasihat membawa burung itu pulang. Raja berjanji memberikan setengah kerajaannya jika penasihat berhasil menyelesaikan tugasnya

Selama berhari-hari penasihat mengamati burung itu dan tidak menemukan cara untuk memisahkan kedua kepala itu. Bagaimana caranya?

Pada suatu hari, penasihat melihat kedua kepala itu menghadap ke arah yang berlawanan. Itu terjadi beberapa kali dalam sehari. Penasihat mendapat akal.

Ketika kepala-kepala burung menghadap ke arah yang berbeda, penasihat berbisik kepada kepala di sebelah kanan, “Tu... tu... tu... tu... tu...” lalu ia pergi dan mengintip dari kejauhan.

Kepala burung yang kiri bertanya kepada saudaranya, “Apa yang dikatakannya kepadamu?”

Saudaranya menjawab, “Bukan apa-apa, kok.”

Pada waktu lain penasihat membisikkan lagi “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan. Kepala kiri bertanya lagi, dan mendapat jawaban, “Bukan apa-apa. Sesuatu yang tak ada artinya.” Kepala kiri mulai merasa tidak senang, tapi ia diam saja.

Begitu seterusnya, penasihat membisikkan “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan, kepala kiri bertanya dan kepala kanan menjawab, “Bukan apa-apa,” atau “Tak ada artinya.”

Kepala kiri makin marah dan penasaran. Hingga akhirnya ketika penasihat membisiki kepala kanan lagi, ia bertanya. “Apa sih yang ia katakan tadi? Juga kemarin?"

Kepala kanan mengatakan, “Aku sudah bilang, ia mengatakan sesuatu yang tak ada artinya.”

“Bisa saja kau bohong,” kata kepala kiri. Setelah bertahun-tahun bersahabat, baru sekarang mereka saling curiga.

“Jadi kau tak percaya kepadaku?” Kepala kanan berteriak, “Saudaramu sendiri?”

“Mengapa kau tidak mau mengatakannya kepadaku?”

“Baiklah, ini yang dia bisikkan selalu kepadaku ‘Tu... tu... tu...tu ... tu.’”

“Kau pikir aku percaya?”

“Saudaraku, hanya itu yang dikatakannya.”

“Kalau hanya itu, mengapa ia datang berkali-kali kepadamu? Dan hanya kepadamu? Pasti kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

Kepala kanan menjadi sangat marah. “Aku menghormatimu lebih dari saudara. Tapi kau tidak percaya kepadaku.”

Kepala kiri tak kalah panas. “Kau memang saudaraku, tapi menurutku kau tidak dapat dipercaya."

Akhirnya mereka bertengkar. Makin lama makin sengit. Mereka saling berteriak, gaduh sekali. Penasihat mengamati dari kejauhan.

Tak lama kemudian kedua kepala itu saling menyerang sambil berteriak-teriak. Mereka saling mematuk dan mendorong. Penasihat bersiap-siap untuk menghentikan perkelahian itu. Kalau burung itu terluka dan mati, ia akan mendapat hukuman berat.
Perkelahian makin seru. Mereka saling mendorong sambil berkata, “Pergi, kau!” dan “Aku tidak mau punya sahabat sepertimu.”

Tiba-tiba terdengar suara letusan keras, dan ajaib, burung itu sudah menjadi dua ekor burung phoenix, masing-masing punya satu tubuh, satu kepala, dua sayap, dua kaki dan seperti layaknya dua ekor burung. Mereka saling menjauh dan membelakangi. Penasihat cepat-cepat memindahkan satu burung ke sangkar yang lain.

Esok harinya, penasihat membawa kedua burung itu kepada raja. Ia sangat senang dan puas. Tugasnya berhasil dilaksanakan dengan baik walaupun ia harus malakukan tindakan tidak terpuji. Sekarang ia akan minta hadiah yang dijanjikan raja, setengah kerajaan. Berkat kecerdikannya, sebentar lagi ia akan menjadi raja.

Raja senang sekali. Ia mengambil kedua sangkar burung itu dan menyuruh penasihat pergi.

“Maaf...Yang Mulia...?” kata penasihat. Ia harus meminta hadiahnya sekarang juga.

“Ya, penasihat,” kata raja. “Kau boleh pulang dan beristirahat.”

“Tapi Tuanku...,” kata penasihat gugup, “Mengenai perjanjian kita...”

“Perjanjian apa?” kata raja sambil terus memandangi burung-burung phoenix.

“Perjanjian tentang...” kalimat penasihat tidak pernah selesai.

“Apakah aku pernah membuat perjanjian denganmu?” kata raja. “Mengenai apa? Aku tidak ingat.”

“Begini saja,” lanjut raja. “Aku tahu kau lelah sekali. Sekarang pulanglah. Pergilah berlibur.”

“Baik, tuanku.” Penasihat pergi dengan sangat kecewa.

Raja sangat senang dengan kedua burung phoenix itu. Burung-burung itu sekarang tidak saling membagi makanan atau apa pun lagi, mereka bahkan tidak saling berbicara. Persahabatan yang berlangsung begitu lama hancur berantakan karena mereka membiarkan orang lain mengadu domba mereka.
Sementara, penasihat mendapatkan apa yang pantas menjadi hadiahnya. Raja tidak mengakui pernah menjanjikan setengah kerajaannya kepada penasihat.

***

Jika Anda menyukai Cerita Burung Phoenix Berkepala Dua, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://direktoricerita.blogspot.co.id/).

Kisah Dua Ekor Katak

T. C. Hamlett bertutur tentang kisah dua ekor katak. Dua katak jatuh ke dalam sekaleng es krim. Sisi-sisi kaleng itu mengkilap dan curam, sedangkan krimnya begitu dalam dan dingin. Oh, bagaimana ini? kata katak yang pertama. Ini takdir, tidak ada pertolongan. Selamat tinggal, sahabatku! Selamat tinggal, dunia yang menyedihkan! ungkapnya lagi sambil menangis dan akhirnya tenggelam.

Cerita Motivasi Kisah Dua Ekor Katak
Akan tetapi, katak kedua yang juga terjatuh ke dalam sekaleng es krim itu langsung mengayuhkan kakinya untuk berenang. Sesaat dia menyeka wajah dan mengeringkan matanya yang penuh krim.Paling tidak, aku akan berenang sejenak, katanya. Tidak akan membantu dunia, jika satu katak lagi mati.

Satu atau dua jam dia menendang dan berenang, tidak sekalipun dia berhenti untuk mengeluh. Tetapi terus menendang dan berenang serta berenang dan menendang. Kayuhan kaki si katak kedua ini, akhirnya membuat es krim yang ada di dalam kaleng tersebut lambat laun mulai mengeras. Setelah es krim itu mulai berubah seperti mentega, katak itu pun lalu melompat.

Satu hal yang membedakan dua katak dalam kisah di atas adalah cara pandang mereka terhadap dunia di sekelilingnya dan bagaimana mereka bersikap terhadap hambatan yang terjadi. Salah satu unsur penting yang kita perlukan untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di sekitar kita, baik itu pekerjaan, masalah keluarga, maupun problem pribadi adalah bagaimana kita memandang masalah tersebut.

Cara pandang ini sangat dipengaruhi oleh informasi apa yang selama ini, secara terus-menerus, masuk kedalam pikiran kita. Jika selama ini informasi yang masuk ke dalam pikiran, baik melalui bacaan, obrolan, perenungan maupun tontonan adalah hal-hal yang sifatnya cenderung untuk mengambil hikmah terhadap permasalahan yang terjadi sehingga membuatnya lebih optimis. Lain halnya jika yang masuk ke dalam pikiran adalah informasi-informasi yang cenderung melemahkan diri, informasi negative tentang orang lain, bacaan yang didominasi roman picisan, dan sebagainya. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi diri kita untuk memandang secara oprimis terhadap permasalahan yang terjadi. Itulah sebabnya seorang pakar NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam hal ini pernah mengemukakan satu peringatan keras : “Awasi Pikiranmu! ”

Bila kita telaah lebih dalam, sesungguhnya hanya lewat cara pandang yang positif seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik atau tidak. Orang yang memiliki cara pandang positif pada umumnya sangat alergi dengan ursan pamrih atau imbalan. Baginya, menyelesaikan pekerjaan adalah the way of life (cara hidup) bukan how to life (bagaimana hidup). Mereka memiliki cara pandang tersendiri terhadap dunia di sekelilingnya sehingga tidak berharap orang lain perlu dan harus memandangnya. Bagi mereka, menyelesaikan pekerjaan bukan untuk dilihat oleh pimpinan dan bukan pula untuk meraih bendera kemenangan atau meraih kedudukan tertentu.

Gelar yang disandang, jabatan yang sudah diduduki, serta kekayaan yang melimpah bukan menjadi jaminan yang bisa membuat seseorang memiliki cara pandang positif terhadap apa dan siapa yang ada di lingkungannya. Di satu pihak kita bias memandang rekan-rekan pegawai sebagai musuh dan kompetitor yang membahayakan. Di pihak lain, justru rekan-rekan pegawai menjadi mitra kerja yang tangguh untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan kita sehari-hari. Bahkan mereka dapat dijadikan jaringan (network ) untuk bisnis tertentu yang saat ini sedang marak di jalankan di tengah-tengah jam kerja. Dengan demikian, bukan lingkungan yang menerjemahkan makna ke dalam diri kita, melainkan hal tersebut secara berbeda-beda.

Cara pandang yang positif ini akan sangat mempengaruhi efektivitas kerja kita. Cara pandang yang positif akan memampukan kita untuk selalu optimis memandang situasi dan kondisi yang sedang terjadi di tengah lingkungan kita. Bahkan melalui cara pandang demikian, secara tidak langsung akan mempengaruhi bagaimana kualitas hidup dan nilai hidup yang dimilikinya. Itulah sebabnya mereka yang mempunyai cara pandang positif akan memiliki willingness to do more (keinginan untuk melakukan lebih dari yang diminta) dan memiliki watak pekerja cerdas (smart worker). Individu yang memiliki cara pandang demikian juga, secara pribadi akan mampu memetakan kompetensi dan minatnya sehingga dia akan tahu di mana dan bagaimana dia berkembang. Dengan niat yang tulus, seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, karena dia tahu itu merupakan bagian dari hidupnya.

Dua orang narapidana memandang keluar jendela. Napi yang satu menatap langit berbintang sambil tersenyum, sedangkan napi yang lain dengan wajah sayu menatap jalan berlumpur dan becek. Di tengah-tengah pergumulan perusahaan untuk bertahan dan bangkit misalnya, seperti apa dan bagaimana cara pandang kita. Di tengah-tengah program efisiensi dan efektivitas yang sedang dicanangkan direksi saat ini untuk bersama-sama bangkit membangun perusahaan, bagaimana pula kita menyikapi hal ini. Semua sangat ditentukan oleh cara pandang kita sendiri. Stephen Covey berkata, "Ketika kita memandang permasalahan dan beban itu berasal dari diri kita, justru pada saat itu sebenarnya kitalah yang sedang bermasalah." sedangkan Pepatah Cina mengatakan, "Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan."

Jadi, mari kita kembangkan optimisme kita mulai hari ini untuk memaknakan arti hidup, membangun keluarga, membangun perusahaan, dan membangun masyarakat. Optimisme yang sesungguhnya adalah menyadari masalah serta mengenali pemecahannya. Mengetahui kesulitan dan yakin bahwa kesulitan itu dapat diatasi. Melihat yang negative tetapi menekankan yang positif. Menghadapi yang terburuk, namun mengharapkan yang terbaik. Mempunyai alasan untuk menggerutu tetapi memilih untuk tersenyum.

Sumber: Parlindungan Marpaung – MQS Publishing

***

Jika Anda menyukai Cerita Motivasi Kisah Dua Ekor Katak, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://direktoricerita.blogspot.co.id/).