Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2015

Burung Phoenix Berkepala Dua

Dahulu kala, hidup dua orang sahabat. Mereka bersahabat selama bertahun-tahun dan berbagi apa saja di antara mereka. Mereka bahkan lebih dekat dari dua orang bersaudara.

Suatu saat, salah satu dari mereka sakit. Penyakitnya makin parah dan akhirnya ia meninggal. Sahabatnya sangat sedih. Tak lama kemudian ia juga jatuh sakit dan meninggal.

Beberapa waktu kemudian, kedua sahabat itu dilahirkan kembali dalam wujud seekor burung phoenix berkepala dua. Kedua kepala burung itu sama seperti kedua sahabat itu dulu. Mereka pergi bersama-sama, mencari makanan bersama.

Pada suatu hari seorang pemburu melihat burung itu. Pemburu itu sudah siap menembak burung itu, namun ketika ia melihat kedua kepala burung itu begitu saling menyayangi, ia tidak sampai hati membunuhnya. Akhirnya ia membiarkan burung itu pergi.

Pemburu menceritakan burung istimewa itu kepada teman-temannya. Tersiarlah kabar ke mana-mana bahwa ada seekor burung phoenix berkepala dua hidup di hutan. Burung phoenix adalah hewan yang jarang ada. Apalagi yang berkepala dua!

Berita itu sampai juga ke telinga raja. Raja memerintahkan agar burung itu ditangkap hidup-hidup. Akhirnya burung itu tertangkap dan dibawa kepada raja.

Raja meletakkan burung itu dalam sebuah sangkar besar. Tiap hari ia mengagumi keindahan burung itu.

Raja memberi makan salah satu kepala burung di sebelah kanan. Burung itu menerima makanan dan memberikan sebagian kepada saudaranya. Ketika raja memberikan makanan kepada kepala yang di kiri, kepala itu juga membagi makanannya kepada kepala di kanan. Demikian seterusnya.

Raja memberikan makanan lagi kepada salah satu kepala, lalu ketika kepala itu hendak membagi makanan kepada saudaranya, raja menghalanginya. Kepala yang menerima makanan tidak menelan makanannya, tapi justru membuangnya. Demikian juga dengan kepala satunya.

Raja menjadi marah. Ia merasa burung itu tidak mematuhi perintahnya. Raja lalu memanggil penasihat dan menyuruhnya memisahkan kedua kepala itu.

Penasihat tidak tau bagaimana melakukan tugas itu. Ia berusaha mengulur waktu dengan minta raja megijinkannya membawa burung itu pulang dan minta waktu selama sebulan. Raja setuju dan penasihat membawa burung itu pulang. Raja berjanji memberikan setengah kerajaannya jika penasihat berhasil menyelesaikan tugasnya

Selama berhari-hari penasihat mengamati burung itu dan tidak menemukan cara untuk memisahkan kedua kepala itu. Bagaimana caranya?

Pada suatu hari, penasihat melihat kedua kepala itu menghadap ke arah yang berlawanan. Itu terjadi beberapa kali dalam sehari. Penasihat mendapat akal.

Ketika kepala-kepala burung menghadap ke arah yang berbeda, penasihat berbisik kepada kepala di sebelah kanan, “Tu... tu... tu... tu... tu...” lalu ia pergi dan mengintip dari kejauhan.

Kepala burung yang kiri bertanya kepada saudaranya, “Apa yang dikatakannya kepadamu?”

Saudaranya menjawab, “Bukan apa-apa, kok.”

Pada waktu lain penasihat membisikkan lagi “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan. Kepala kiri bertanya lagi, dan mendapat jawaban, “Bukan apa-apa. Sesuatu yang tak ada artinya.” Kepala kiri mulai merasa tidak senang, tapi ia diam saja.

Begitu seterusnya, penasihat membisikkan “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan, kepala kiri bertanya dan kepala kanan menjawab, “Bukan apa-apa,” atau “Tak ada artinya.”

Kepala kiri makin marah dan penasaran. Hingga akhirnya ketika penasihat membisiki kepala kanan lagi, ia bertanya. “Apa sih yang ia katakan tadi? Juga kemarin?"

Kepala kanan mengatakan, “Aku sudah bilang, ia mengatakan sesuatu yang tak ada artinya.”

“Bisa saja kau bohong,” kata kepala kiri. Setelah bertahun-tahun bersahabat, baru sekarang mereka saling curiga.

“Jadi kau tak percaya kepadaku?” Kepala kanan berteriak, “Saudaramu sendiri?”

“Mengapa kau tidak mau mengatakannya kepadaku?”

“Baiklah, ini yang dia bisikkan selalu kepadaku ‘Tu... tu... tu...tu ... tu.’”

“Kau pikir aku percaya?”

“Saudaraku, hanya itu yang dikatakannya.”

“Kalau hanya itu, mengapa ia datang berkali-kali kepadamu? Dan hanya kepadamu? Pasti kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

Kepala kanan menjadi sangat marah. “Aku menghormatimu lebih dari saudara. Tapi kau tidak percaya kepadaku.”

Kepala kiri tak kalah panas. “Kau memang saudaraku, tapi menurutku kau tidak dapat dipercaya."

Akhirnya mereka bertengkar. Makin lama makin sengit. Mereka saling berteriak, gaduh sekali. Penasihat mengamati dari kejauhan.

Tak lama kemudian kedua kepala itu saling menyerang sambil berteriak-teriak. Mereka saling mematuk dan mendorong. Penasihat bersiap-siap untuk menghentikan perkelahian itu. Kalau burung itu terluka dan mati, ia akan mendapat hukuman berat.
Perkelahian makin seru. Mereka saling mendorong sambil berkata, “Pergi, kau!” dan “Aku tidak mau punya sahabat sepertimu.”

Tiba-tiba terdengar suara letusan keras, dan ajaib, burung itu sudah menjadi dua ekor burung phoenix, masing-masing punya satu tubuh, satu kepala, dua sayap, dua kaki dan seperti layaknya dua ekor burung. Mereka saling menjauh dan membelakangi. Penasihat cepat-cepat memindahkan satu burung ke sangkar yang lain.

Esok harinya, penasihat membawa kedua burung itu kepada raja. Ia sangat senang dan puas. Tugasnya berhasil dilaksanakan dengan baik walaupun ia harus malakukan tindakan tidak terpuji. Sekarang ia akan minta hadiah yang dijanjikan raja, setengah kerajaan. Berkat kecerdikannya, sebentar lagi ia akan menjadi raja.

Raja senang sekali. Ia mengambil kedua sangkar burung itu dan menyuruh penasihat pergi.

“Maaf...Yang Mulia...?” kata penasihat. Ia harus meminta hadiahnya sekarang juga.

“Ya, penasihat,” kata raja. “Kau boleh pulang dan beristirahat.”

“Tapi Tuanku...,” kata penasihat gugup, “Mengenai perjanjian kita...”

“Perjanjian apa?” kata raja sambil terus memandangi burung-burung phoenix.

“Perjanjian tentang...” kalimat penasihat tidak pernah selesai.

“Apakah aku pernah membuat perjanjian denganmu?” kata raja. “Mengenai apa? Aku tidak ingat.”

“Begini saja,” lanjut raja. “Aku tahu kau lelah sekali. Sekarang pulanglah. Pergilah berlibur.”

“Baik, tuanku.” Penasihat pergi dengan sangat kecewa.

Raja sangat senang dengan kedua burung phoenix itu. Burung-burung itu sekarang tidak saling membagi makanan atau apa pun lagi, mereka bahkan tidak saling berbicara. Persahabatan yang berlangsung begitu lama hancur berantakan karena mereka membiarkan orang lain mengadu domba mereka.
Sementara, penasihat mendapatkan apa yang pantas menjadi hadiahnya. Raja tidak mengakui pernah menjanjikan setengah kerajaannya kepada penasihat.

***

Jika Anda menyukai Cerita Burung Phoenix Berkepala Dua, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://direktoricerita.blogspot.co.id/).

Hiu - Hiu Kecil Kehidupan

Seorang sahabat mengirim kisah menarik tentang upaya nelayan Jepang untuk mempertahankan ikan agar tetap segar sampai ke tangan pelanggan. Akhir-akhir ini sudah sangat sedikit ikan yang ditangkap di perairan dekat pantai sehingga nelayan harus pergi melaut ke tempat yang agak jauh. Akibatnya, ikan yang tiba di pantai diterima pelanggan sudah tidak segar lagi,harga pun jatuh. Untuk mengatasi hal ini,paguyuban nelayan disana mengusahaka freezer ( lemari pendingin) dibawa di atas perahu,agar sekalipun ikan tersebut telah mati,namun tetap beku dan tidak busuk. Upaya ini pun ternyata tidak juga memuaskan pelanggan penikmat ikan segar, mereka mengatakan cita rasa ikannya telah berkurang karena sudah mati dan di bekukan. Akibatnya, harga ikan pun semakain merosot tajam, karena tidak dalam keadaan hidup. 

Langkah berikutnya yang di tempuh para nelayan di sana adalah dengan membawa tangki-tangki yang agak besar ketika melaut. Ikan-ikan yang telah dijaringselanjutnya di masukkan ke dalam tangki-tangki dalam keadaan hidup. Mereka dijejalkan dalam tangki tersebut. Setelah sekian lama ikan-ikan tersebut berdesak-desakan dan saling bertabrakan, lama kelamaan ikan-ikan tersebut lemas namun tetap hidup ketika dibawa kepantai. Namun, masyarakat Jepang tetap tidak suka menikmati ikan lemas, karena cita rasanya berbeda dibandingkan dengan ikan yang tetap hidup. Paguyuban nelayan Jepang pun kembali berfikir keras tentang bagaimana supaya ikan yang ditangkap tetap hidup dan segar. Usah berfikir keras ternyata membuahkan ide yang luar biasa. Kini ketika para nelayan melaut,mereka tetap membawa tangki,namaun jumlah ikan yang dimasukan agak dikurangi. Uniknya lagi, setelah semua ikan dimasukkan ke tangki dan siap dibawa ke pantai,para nelayan tersebut memasukkan ikan hiu kecil ke dalam tiap tangki. Ikan hiu tersebut memang memakan ikan yang ada didalam tangki namun tidak banyak. Sementara ikan-ikan lain lari dikejar-kejar hiu yang berada ditangki itu. Alhasil, ikan-ikan tersebut tetap dalam kondisi siaga dan takut yang tanpa disadarinya telah tiba di pantai. 

Pelanggan merasa puas memperoleh ikan yang tetap hidup dan segar. “Tantangan dan masalah merupakan tanda bahwa kita masih hidup,” demikian filsuf pernah bertutur. Jika dicermati lebih jauh,memang tidak satu tempat pun di dunia ini yang terbebas dari tantangan. Tantangan sesungguhnya membuat seseorang semakin matang dan dewasa dalam perkembangan mental. Tantangan yang dilakoni dengan baik akan memberikan pembelajaran yang paling berharga bagi kehidupan sesesorang. Anak-anak yang terlalu enak menikmati fasilitas orangtuanya, terkadang memiliki mentalitas yang rapuh ketika harus berhadapan denga situasi kritis dalam kehidupannya kelak. Karyawan yang hanya menjalankan rutinitas pekerjaan tanpa ada dinamika kerja, tentu akan mematikan semangat untuk mengembangkan kompetensi lebih tinggi lagi. Para pemimpin yang manja dan berharap tidak ada konflik pekerjaan akan akan memunculkan kompetensi yang kerdil dalam proses pengambilan keputusan yang dilakukannya. 

Bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bebas tantangan,akan membuat negara tersebut sulit berkembang. Seorang veteran perang Vietnam ketika berjalan melewati jalan-jalan yang becek bersama rekannya tidak mengalami sedikit pun kotoran yang mengenai dirinya, padahal temannya sudah sangat kotor ketika melewati jalan tersebut. Sambil terheran-heran sang teman bertanya kepada veteran tersebut,apa yang membuat ia sedemikian lincah melewati jalan-jalan yang becek dan penuh dengan genangan air. Dengan tenang sang veteran menjawab bahwa selama di Vietnam, dia dihadapkan pada tantangan medan ranjau yang demikian luas sehingga harus hati-hati dalam melangkah, sebab kalau tidak maka nyawa taruhannya. Rupanya tantangan medan ranjau tersebut memberikan arti tersendiri dalam kehidupannya saat ini. Cara menghadapi tantangan memerlukan seni dan cara tersendiri yang tidak bisa dilepaskan dari lamanya seseorang menikmati asam garam kehidupan. “Tantangan dan masalah merupakan tanda bahwa kita masih hidup,” demikian filsuf pernah bertutur.

Jika dicermati lebih jauh, memang tidak satu tempat pun di dunia ini yang terbebas dari tantangan. Tantangan sesungguhnya membuat seseorang semakin matang dan dewasa dalam perkembangan mental. Tantangan yang dilakoni dengan baik akan memberikan pembelajaran yang paling berharga bagi kehidupan sesesorang.” Motivasi akan memberikan kita keinginan dan dorongan maksimal. Pelatihan akan memberikan kita cara menghadapi tantangan, dan gabungan antara motivasi dengan pelatihan akan memberikan ide-ide kreatif untuk melawan tantangan. 

Di atas itu semua, komitmen, disiplin, dan tanggung jawab akan membekali kita dalam menghadapi masa-masa sulit kehidupan. Apakah saat ini kita menghadapi tantangan yang begitu berat di pekerjaan, keluarga, atau ekonomi? Tidak ada tantangan yang terlalu kecil untuk dilalui, demikian pula tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk dilewati. Semua liku-liku kehidupan sesungguhnya telah diatur Sang Khalik sehingga tidak melewati batas kemampuan kita sebagai manusia. Kita tidak dapat menentukan arah angin kehidupan, namun yang pasti kita dapat mengatur layar dan bahtera kehidupan dengan maksimal. Ketika tantangan kehidupan dirasa terlalau ringan dan belum ada dinamika yang dirasakan, mungkin kita memerlukan “hiu-hiu kecil” kehidupan yang membuat kita tertantang. 

Sumber: Setengah Isi Setengah Kosong - Parlindungan Marpaung

***

Jika Anda menyukai Cerita Motivasi Hiu-Hiu Kecil Kehidupan, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://direktoricerita.blogspot.co.id/).

Kisah Dua Ekor Katak

T. C. Hamlett bertutur tentang kisah dua ekor katak. Dua katak jatuh ke dalam sekaleng es krim. Sisi-sisi kaleng itu mengkilap dan curam, sedangkan krimnya begitu dalam dan dingin. Oh, bagaimana ini? kata katak yang pertama. Ini takdir, tidak ada pertolongan. Selamat tinggal, sahabatku! Selamat tinggal, dunia yang menyedihkan! ungkapnya lagi sambil menangis dan akhirnya tenggelam.

Cerita Motivasi Kisah Dua Ekor Katak
Akan tetapi, katak kedua yang juga terjatuh ke dalam sekaleng es krim itu langsung mengayuhkan kakinya untuk berenang. Sesaat dia menyeka wajah dan mengeringkan matanya yang penuh krim.Paling tidak, aku akan berenang sejenak, katanya. Tidak akan membantu dunia, jika satu katak lagi mati.

Satu atau dua jam dia menendang dan berenang, tidak sekalipun dia berhenti untuk mengeluh. Tetapi terus menendang dan berenang serta berenang dan menendang. Kayuhan kaki si katak kedua ini, akhirnya membuat es krim yang ada di dalam kaleng tersebut lambat laun mulai mengeras. Setelah es krim itu mulai berubah seperti mentega, katak itu pun lalu melompat.

Satu hal yang membedakan dua katak dalam kisah di atas adalah cara pandang mereka terhadap dunia di sekelilingnya dan bagaimana mereka bersikap terhadap hambatan yang terjadi. Salah satu unsur penting yang kita perlukan untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di sekitar kita, baik itu pekerjaan, masalah keluarga, maupun problem pribadi adalah bagaimana kita memandang masalah tersebut.

Cara pandang ini sangat dipengaruhi oleh informasi apa yang selama ini, secara terus-menerus, masuk kedalam pikiran kita. Jika selama ini informasi yang masuk ke dalam pikiran, baik melalui bacaan, obrolan, perenungan maupun tontonan adalah hal-hal yang sifatnya cenderung untuk mengambil hikmah terhadap permasalahan yang terjadi sehingga membuatnya lebih optimis. Lain halnya jika yang masuk ke dalam pikiran adalah informasi-informasi yang cenderung melemahkan diri, informasi negative tentang orang lain, bacaan yang didominasi roman picisan, dan sebagainya. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi diri kita untuk memandang secara oprimis terhadap permasalahan yang terjadi. Itulah sebabnya seorang pakar NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam hal ini pernah mengemukakan satu peringatan keras : “Awasi Pikiranmu! ”

Bila kita telaah lebih dalam, sesungguhnya hanya lewat cara pandang yang positif seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik atau tidak. Orang yang memiliki cara pandang positif pada umumnya sangat alergi dengan ursan pamrih atau imbalan. Baginya, menyelesaikan pekerjaan adalah the way of life (cara hidup) bukan how to life (bagaimana hidup). Mereka memiliki cara pandang tersendiri terhadap dunia di sekelilingnya sehingga tidak berharap orang lain perlu dan harus memandangnya. Bagi mereka, menyelesaikan pekerjaan bukan untuk dilihat oleh pimpinan dan bukan pula untuk meraih bendera kemenangan atau meraih kedudukan tertentu.

Gelar yang disandang, jabatan yang sudah diduduki, serta kekayaan yang melimpah bukan menjadi jaminan yang bisa membuat seseorang memiliki cara pandang positif terhadap apa dan siapa yang ada di lingkungannya. Di satu pihak kita bias memandang rekan-rekan pegawai sebagai musuh dan kompetitor yang membahayakan. Di pihak lain, justru rekan-rekan pegawai menjadi mitra kerja yang tangguh untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan kita sehari-hari. Bahkan mereka dapat dijadikan jaringan (network ) untuk bisnis tertentu yang saat ini sedang marak di jalankan di tengah-tengah jam kerja. Dengan demikian, bukan lingkungan yang menerjemahkan makna ke dalam diri kita, melainkan hal tersebut secara berbeda-beda.

Cara pandang yang positif ini akan sangat mempengaruhi efektivitas kerja kita. Cara pandang yang positif akan memampukan kita untuk selalu optimis memandang situasi dan kondisi yang sedang terjadi di tengah lingkungan kita. Bahkan melalui cara pandang demikian, secara tidak langsung akan mempengaruhi bagaimana kualitas hidup dan nilai hidup yang dimilikinya. Itulah sebabnya mereka yang mempunyai cara pandang positif akan memiliki willingness to do more (keinginan untuk melakukan lebih dari yang diminta) dan memiliki watak pekerja cerdas (smart worker). Individu yang memiliki cara pandang demikian juga, secara pribadi akan mampu memetakan kompetensi dan minatnya sehingga dia akan tahu di mana dan bagaimana dia berkembang. Dengan niat yang tulus, seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, karena dia tahu itu merupakan bagian dari hidupnya.

Dua orang narapidana memandang keluar jendela. Napi yang satu menatap langit berbintang sambil tersenyum, sedangkan napi yang lain dengan wajah sayu menatap jalan berlumpur dan becek. Di tengah-tengah pergumulan perusahaan untuk bertahan dan bangkit misalnya, seperti apa dan bagaimana cara pandang kita. Di tengah-tengah program efisiensi dan efektivitas yang sedang dicanangkan direksi saat ini untuk bersama-sama bangkit membangun perusahaan, bagaimana pula kita menyikapi hal ini. Semua sangat ditentukan oleh cara pandang kita sendiri. Stephen Covey berkata, "Ketika kita memandang permasalahan dan beban itu berasal dari diri kita, justru pada saat itu sebenarnya kitalah yang sedang bermasalah." sedangkan Pepatah Cina mengatakan, "Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan."

Jadi, mari kita kembangkan optimisme kita mulai hari ini untuk memaknakan arti hidup, membangun keluarga, membangun perusahaan, dan membangun masyarakat. Optimisme yang sesungguhnya adalah menyadari masalah serta mengenali pemecahannya. Mengetahui kesulitan dan yakin bahwa kesulitan itu dapat diatasi. Melihat yang negative tetapi menekankan yang positif. Menghadapi yang terburuk, namun mengharapkan yang terbaik. Mempunyai alasan untuk menggerutu tetapi memilih untuk tersenyum.

Sumber: Parlindungan Marpaung – MQS Publishing

***

Jika Anda menyukai Cerita Motivasi Kisah Dua Ekor Katak, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://direktoricerita.blogspot.co.id/).